Oleh: Pucuk Pinpinan Pesindo bagian Penerangan.
Pesindo - Pemuda Sosialis Indonesia -telah masuk dalam masyarakat. Nama Pesindo telah berada dalam hati rakyat jelata. Suara Pesindo telah didengarkan oleh umum. Perjuangan isinyapun telah pula dirasakan oleh rakyat, hanya belum mendalam sampai kedarah dan tulang sumsumnya. Usaha menperdalam sampai diperdarah dagingkan oleh rakyatlah sekarang yang menjadi tanggungan tiap-tiap pemuda Sosialis terutama pengurususnya.
Azas Pesindo ialah kedaulatan Rakyat yang penuh (Sosialisme) dalam lapangan 1.politik, 2. ekonomi, dan 3. sosial. Tujuanya: memperteguh Negara Republik Indonesia berdasarkan kedaulatan Rakyat yang penuh (Masyarakat Sosialistis). Rencana perjuanganya: menpersatukan seluruh tenaga perjuagan guna menpertahankan Republik Indonesia berdasarkan keadilan sosial dll.
Demikian azas, tujuan dan rencana perjuangan Pesindo mencapai cita-cita Rakyat Indonesia (yang lengkap bacalah majalah "Revolusioner" No. 1 halaman 10-12).
Isi dan tujuan Pesindo telah tercantum sendiri dalam namanya, oleh karena itu hanya kedudukannya dalam perjuanganlah yang manghendaki penerangan dan penyempurnaan.
Rakyat Indonesia adalah Rakyat yang berjiwa ( gotong royong dan yang sampai sekarang bermasyarakat gotong royong). Jiwa yang demikian di Indonesia bukan bikinan manusia ini adalah tempat alam sendiri. Iklim dan bumi Indonesia menempa rakyat Indonesia demikian.Tanah Indonesia kaya raya karena iklimnya, sebab hujan dan kepanasan mataharinya cukup benar untuk menyuburkan bumi Indonesia.
Kedudukanya dibawah sinar matahari yang langsung karena berada dalam "khatulistiwa" (equator) dan di tengah-tengah aliran- aliran angin Barat dan Timur "west monsoon dan East monsson" mengajakan Indonesia sampai melimpah. Kekayaan alam Indonesia ini menbentuk jiwa pemurah, memberi dasar kepada jiwa Indonesia jaitu jiwa bergotong-royong. Jiwa yang bergotong royong inilah menyusun dan meletakkan dasar-dasar masyarakat di Indonesia yaitu masyarakat yang bergotong-rayong. Jiwa dan masyarakat yang bergotong-royng inilah yang berkusa di Indonesia sampai sekarang. Hanya pusatnya bukan di kota tetapi di Desa. Di desa usaha-usaha yang penting masih di usahakan bersama misalnya minghindarkan bahaya, gugur Gunung, banjir dll. Perkara diselesaikan dengan putusan Rakyat. Rumah-rumah didirikan bersama. Ongkos-ongkos pesta di pikul bersama. Panenpun dipungut hasilnya bersama dsb. Roch yang demikian sudah hilang dari kota diusir oleh Roch yang individualistis yang di tanam oleh kapitalisme dan imperialisme dan selama 350 tahun. Stelsel perekonomian di kota kapitalistik dan imperialistik sehingga susunanya merupakan merupkan susunan pengangkutan kekayaan Indonesia dari Indonesia.
Oleh karena ini semua rakyat Indonesia yang 70 juta itu melarat di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah dan kaum intelektuil Indonesia yang 5% itu kehilangan jiwa gotong royong.50 tahun yang terakhir ini perjuangan politik di Indonesia berjuang mati-matian merebut kembali pusaka asli itu. Dalam perjuangang ini Indonesia memperoleh pengetahuan dari gerakan-gerakan politik dari Eropa dan Rusia.
Di Eropa stelsel kapitalisme membagi masyarakat menjadi dua:
1. Masyarakat burjuis (kaum modal dan komplotannya)dan
2. Masyarakat Proletar (buruh, tani dan militer.).
Masyarakat burjuis adalah masyarakat kecil yang memonopoli kemakmuran sampai berlebih-lebihan dan masyarakat proletar adalah masyarakat yang besar yang miskin sampai kelaparan.
Penindasan yang melampaui batas kemanusiaan ini terhadap proletar menimbulkan gerakan politik yang revolusioner di Eropa terutama mulai tahun 1820. Ini adalah pula kodrat alam. Selama ada penindasan atau perbedaan klas dan dimana saja ia berada selama itu dan disitu pula akan timbul gerakan handak melespaskan dari penindasan dan perbedaan kelas itu dan jika sempurna betul bukan hanya melepaskan diri tetapi juga mengganti penindasan dan perbedaan itu dengan keadilan.Tiap- tiap alam penindasan menimbulkan pemimpin. Demikian diwaktu penindasan kapitalisme dalam abad ke 19 sapai sekarang timbul pergerakan-pergerakan yang dipimpin pujangga-punjngga besar sebagai Marx-Egels-Lasalle, Owen dan lain-lainnya di Europa.
Pergerakan ini timbul pula di Rusia karena disitu rakyat yang kurang lebih 160 juta itu ditindas oleh stelsel feodalisme. Kemakmuran yang mesti di bagi-bagi oleh 160 juta itu di kuasai hanya kurang lebih 142 raja tanah feodal.
Di Indonesia kapitalisme - imperialisme menindas rakyat yang 70 juta itu. Alam penindasan ini pula menimbulkan pergerakan revolusioner di Indonesia. Demikian pergerakan-pergerakan revolusioner sebagai Serikat Islam, Serikat Rakyat, Partai Komunis Indonesia, Partai Nasional Indonesia, Pendidikan Nasional Indonesia, Gerakan Rakyat Indonesia dan lain-lain lahir untuk melepaskan Indonesia dari penindasan itu. Semua pergerakan-pergerakan tersebut ini menanam jiwa revolusi dalam sanubari rakyat Indonesia. Isi ajaran yang di tanam oleh pergerakan-pergerakan itu ialah gotong royongisme atau sama rata sama rasa dalam terminologi kawan-kawan rakyat jelata.
Dalam Bahasa import dinamai sosialisme. Maka isi yang diperjuangkan oleh gerakan-gerakan politik di Indonesia selama 50 tahun berakhir ini sama dengan isi dan cita-cita rakyat murba yaitu sama dengan dasar jiwa dan kemasyarakatan di Indonesia.
RAKYAT INDONESIA TULEN tidak ingin makmur sendiri. Jiwanya sakit kalau ia makmur tetapi orang lain sengsara. Jiwanya sakit kalau melihat ia di dewa-dewakan, orang lain di rendah- rendahkan. Maka penindasan materi dan penindasan jiwa tidak di kehendaki oleh rakyat tulen, yaitu rakyat murba di Indonesia. Keinginan rakyat tulen di Indonesia inilah yang di perjuangkan oleh gerakanh-gerakan revolusioner di Indonesia.
Jiwa gerakan demikian telah mengisi dan menguasai jiwa muda di Indonesia. Proses jiwa demikian ini meletus pada tgl 17 Agustus1945. Jiwa yang demikian ini di waktu pemerintahan Jepang pun berapi-api. Jepang hendak mengalirkan ini untuk menahan kemajuan sekutu tetapi usaha ini gagal. Karena jiwa yang demikian bukanlah bikinan sementara: jiwa yang demikian adalah tempaan alam, tuntutan sejarah yang tidak dapat dirubah atau ditahan oleh siapa saja. Maka letusan itupun pada tgl 17 Agustus adalah syarat evolusi sejarah yang mesti terjadi. Begitulah Angkatan Muda dengan rakyat seluruhnya bangun serentak melahirkan Kemerdekaan Indonesia ini, kelahiran revolusi menantang kapitalisme, imperialisme dan menggantinya secepat-cepatnya dengan susunan gotong royong. Maka Kemerdakaan Indonesia adalah pembukaan bagi rakyat jelata. Kemerdekaan Indonesia belum berarti kemakmuran tetapi langkah pertama kepada perjuangan mencapai kemakmuran bagi tiap-tiap warga negara Indonesia. Pemuda-pemuda Indonesia telah membuat kemerdekaan itu. Maka untuk melanjutkan perjuangan mencapai cita-cita rakyak proletar yaitu menghapuskan penindasan materi dan jiwa, Angkatan-angkatan Muda mempersatukan dirinya dalam Pesindo, Pemuda Sosialis Indonesia. Nama itu sendiri telah mengandung isinya yaitu pemuda yang akan menciptakan gotong royongisme dalam politik, ekonomi dan sosial. Isi ini telah menjadi dasar negara Republik Indonesia. Isi ini pulalah yang diperjuangkan oleh Pesindo dalam perjuangan mana Pesindo memakai jalan yang secepat-cepatnya.
Itulah sebabnya maka perjuangan Pesindo adalah perjuangan revolusioner. Nah, sekarang bagaimanakah kedudukan Pesindo dalam perjuangan Indonesia dan perjuangan Internasional?
Dengan keterangan diatas menguaraikan cita-cita rakyat Indonesia dan isi perjuangan pergerakan politik di Indonesia tidak susah lagi bagi siapa saja untuk mengetahuinya.
Ditanah air kita bermacam-macam pergerakan yang sesebagainya sama isi dan tujuannya, hanya ada yang berlainan dalam caranya. Pesindo realistis dalam perjuangannya, sebab memang dengan memakai cara yang realistis itulah cita-cita yang demikian yang dapat tercapai.
Sekarang adakah di Indonesia badan atau golongan yang tidak setuju kepada cita-cita rakyat jelata itu? Menurut kepercayaan Pesindo dalam teori prinsipnya tiada ada. Apakah ada juga yang tidak setuju dengan caranya yaitu cara revolusioner? Menurut kepercayaan Pesindo dalam teori prinsipnya tidak ada pula. Kalau demikian mengapakah Pesindo berdiri? Tidak lain karena praktek lain dari pada teori.
Maka Pesindo dalam perjuangannya berkedudukan mengerahkan tenaga
Indonesia dan rakyatnya seluruhnya kejurusan perjuangan yang
nyata menurut keadaan yang nyata di Indonesia. Keadaan yang
nyata di Indonesia:
1. Indonesia adalah bekas jajahan.
2. Karena itu pengaruhnya masih merupakan halangan bagi cita-
cita rakyat.
Mencapai cita-cita itu:
a. Pemerintah harus mempunyai pengetahuan dan kesadaran
politik dalam cita-cita. Dalam rangka pertama burokrasi harus
dihilangkan.
b. Rakyat jelata yang telah berdarah daging gotong
royongisme musti mempunyai organisasi.
Beban untuk meletakan syarat-syarat inilah yang sekarang dipikul oleh Pesindo. Ini bukan berarti, bahwa badan-badan lain tidak memperjuangkan atau menuntut cita-cita demikian. Strategis Pesindo memikul beban ini terang-terangan karena memang Pesindo adalah kepunyaan rakyat seluruhnya. Karena Pesindo ini adalah terdiri dari Anak-anaknya rakyat itu sendiri.
Melaksanakan cita-cita demikian menghendaki tenaga rakyat seluruhnya, menghendaki tenaga massa untuk mengadakan perubahan. Maka dalam daadnya [prakteknya] Pesindo adalah orgaan yang mengumpulkan segala tenaga di Indonesia yaitu tenaga rakyat dan tenaga economi dan merevolusionerkan segala tenaga ini untuk menpercepat datangnya cita-cita itu sebagaimana dijantumkan dalam rencana perjuanganya.
Maka jiwa gerakan yang lembek dikeraskan oleh Pesindo, jiwa geraka kanan dikirikan oleh Pesindo, politik yang merugikan Kemerdekaan yang penuh dibenarkan oleh Pesindo. Rakyat yang sekarang telah bangkit melawan penjajahan dan mulai menyusun dirinya sendiri dalam berbagai-bagai barisan dan gerakan sebagai barisan Tani dan Buruh dihela oleh Pesindo. Maka Pesindo adalah Prajurit rakyat, dalam segala lapangan. Pesindo adalah membuka jalan bagi rakyat jelata. Untuk ini Pesindo menpunyai cita-cita dan menpunyai progam untuk ditawarkan sebagai pedoman perjuangan. Dengan ini Pesindo berusaha menarik massa kepada revolusi yang teratur, revolusi yang mempunyai rencana. Bukankah tiap-tiap badan menghendaki perubahan itu di Indonesia?
Sekarang Negeri kita berada dalam dua macam perjuangan, yaitu:
a. Revolusi nasional.
b. Revolusi sosial.
Yang pertama mengusir musuh dari Indonesia untuk mencapai Kedaulatan Negara Indonesia dalam dunia Internasional dan yang kemudian mengadakan perubahan didalam Negeri, yaitu perubahan menuju kedaulatan Rakyat dalam politik, ekonomi dan sosial. Pekerjaan ini adalah pekerjaan raksasa dan pekerjaan raksasa menghendaki kesungguhnya hati , menhendaki keuletan, menghendaki solidariteit dan menghendaki efficiensi dalam segala lapagan penbagunan. Tidak cukup hanya bergantung kepada organisasi lama. Pekerjaan ini menghendaki tenaga raksasa. Dimakah tenaga raksasa itu? Tenaga itu berada di Desa. Di kota berada tenaga intelektuelen dan perindustrian, di Desa ada rakyat proletar tani dan hasil bumi.
Koordinasilah yang dapat membetuk tenaga raksasa ini dan koordinasi ini dapat dibentuk dengan keinsyafan kepada realitas perjuangan dapat digerakan oleh badan yang menpunyai isi kepentingan bersama di antara rakyat seluruhnya. Maka Pesindo sekarang berusaha memgumpulkan tenaga pemimpin- pemimpin, mengumpulkan tenaga badan-badan, dan menunjukan jalan kepada rakyat jelata. Apabila ini sudah berhasil,tenaga yang demikian inilah yang dapat mengusir musuh seluruhnya. Dengan demikian Pesindo menperkuat kedudukan Pemerintah Republik Indonesia dalam dunia Internasional. Bagi Pesindo tidak cukup hanya menyatakan meperkuat dalam mulut, dalam perkataan dll, tetapi menperkuat dengan tenaga yang nyata. Itulah pula sebabnya maka Pesindo tidak putus-putus berusaha memperkuat Laskar Rakyat dengan bemberi latihan ketentaraan, economi dan ideologi. Jadi jika Pesindo keras dalam langkahnya, bukan oleh karena Pesindo hendak memusnahkan, tetapi oleh karna Pesindo hendak mencapai dengan cepat dan hanya dengan langkah yang cepatlah musuh dapat di hancurkan. Dalam prakteknya memang langkah Pesindo ini tidak dapat penuh diikuti oleh sebagian masyarakat, terutama kaum intellectueel, sebab tujuan intellectualisme yang di bawa oleh Belanda, bukan hendak memenuhi perubahan untuk mencapai perubahan, tetapi memenuhi kebutuhan administrasi sipenjajah, oleh karena itu bukan berarti bahwa perubahan itu tidak boleh kita capai dengan cara yang revolusioner, karena kebetulan administrasi di Indonesia ini terpaksa harus tergantung kepada burokrasi lama. Ini adalah suatu realiteit. Oleh karena itu tidak patut kalau di terima salah oleh siapapun juga. Demikian juga dalam hal tenaga pimpinan tidak patut di terima salah. Pesindo dituduh menganut kepada Pemimpin-pemimpin bukan kepada ideologi, oleh karena itu dalam usahanya Pesindo mempersatukan tenaga-tenaga pimpinan-pimpinan sehingga pemimpin-pemimpin bisa takluk putusan umum, putusan rakyat. Bukanlah ini suatu barang yang suci dan strategi dalam revolusi? Revolusi apapun juga menghendaki centralisasi pimpinan. Untuki mengetahui pimpinan yang benar rakyat menghendaki pengetahuan. Ini perlu, bukan oleh karena rakyat berjuang untuk pengetahuan,tetapi oleh karena pengetahuan yang demikianlah yang dapat mengekalkan dan menjamin hasilnya bagi rakyat sehingga tidak sebagai rakyat Jepang kepada Tenno Heikanya. Pengetahuan demikian hanya dapat diperoleh oleh rakyat dari pengalaman, yaitu usaha-usaha dan organisasi-organisasi diperoleh dimana ia sendiri turut menentukan arahnya. Makin besar organisasi rakyat makin dekat ia kepada pemimpin-pemimpin. Inilah yang akan memberi pengetahuan kepadanya, pemimpin mana yang bersar dan dengan kedekatan ini pula ia dapat mengontrol pemimpin-pemimpinnya. Hasilnya akan mencapai kebenaran pimpinan, dan pemimpin yang besar. Dengan latihan demikian rakyat akan mendapat keberanian melemparkan mana yang salah dan memakai mana yang benar.
Rakyat sekarang berada dalam proses ini, demikian pula Pesindo. Pesindo berada dalam usaha mencapai kebenaran pimpinan diwaktu ia melaksanakan persatuan segala tenaga untuk mencapai tujuan cita-cita rakyat jelata Indonesia. Tenaga yang demikian ini, koordinasi ini yang serupa dengan inilah yang akan menjamin terusirnya tiap-tiap penjajahan dari Indonesia. Dalam hal ini bukan Pesindo yang dijadikan alat tetapi Pesindo dengan hati terbuka, dengan niat yang jujur hendak mencapai kebenaran untuk menjamin kekekalan, kemakmuran bagi rakyat jelata; untuk menpercepat terusirnya musuh-musuh dan dengan sendirinya meninggikan Kedaulatan Negara kita.
Demikian pula halnya dalam revolusi sosial.
Pesindo terus terus menerus dengan cara yang revolusioner menunjukkan arah dalam politik dan Pemerintahan yang akan menjamin kekuasaan di tangan Rakyat, akan menjamin kemakmuran bagi rakyat proletar di Indonesia. Straregi perjuangan memang menghendaki ini. Hanya dengan cara dan program yang nyata, yang tegas dan yang bisa dimengerti oleh rakyat berdasar pehitungan bukan kepada mistiklah yang dapat menarik massa dan menpersatukan tenaga massa sehinga bulat. Dengan putusan tenaga ini perubahan apa saja dapat dicapai, pembangunan apa saja dapat di jalankan karena dengan dipersatuan massa ini kebetulan dan kesatuan organisasi dapat di capai. Dengan jalan demikian burokrasi dan konservatisme dapat di hilangkan secepat-cepatnya.
Perjuangan mencapai cita-cita gotong royongisme di Indonesia akan lebih kuat kedudukannya dan akan lebih terjamin kedatanganya kalau dari dunia luar mendapat bantuan. Dalam hal ini bantuan yang direct [langsung] dan yang indirect [tidak langsung ] sama pentingnya.
Perjuangan yang dapat menperkuat kedudukan perjuangan di Indonesia ialah perjuangan sosialis. Maka dalam langkahnya Pesindo menyambut sosialis di luar Negeri.
Dimana di seluruh dunia kemelaratan proletar merata dan tiap- tiap Negeri kapitalistis timbul kelas proletar menentang penindasan. Dengan rakyat proletar luar Negeri ini Pesindo seperjuangan. Maka oleh karena itu Pesindo tidak putus- putusnya menjerukan kepada kawan-kawan itu meneruskan perjuangannya dengan mengingat bahwa Pesindo di Indonesia berada dalam perjuangan yang sama dengan perjuangan mereka.
Hanya dengan persatuan perjuangan proletar seluruh dunialah kekuatan kapitalisme dan imperialisme dapat dibinasakan sama sekali dari muka bumi. Sekarang perhubungan terputus, tetapi pekerjaan bersama masih tetap jalan. Hubungan udara dapat mempersatukan segala element sosialis seluruh dunia. Kabar perjuangan dengan bambu rucing di Indonesia untuk mencapai gotong royongisme di Indonesia membangunkan optimisme dalam perjuangan sosialis di mana-mana yaitu di India, Tiongkok, Australia, Iran, Irak, Polonia dan diseluruh negeri-negeri Europa. Perjuangan demikian ini menyakinkan Rusia membela Indonesia karena tiap- tiap perjuangan sosialis dimanpun juga berarti menjatuhkan kekuasaan kapitalisme dan imperialisme.
Dengan perjuangan yang diuraikan tadi Pesindo berkeyakinan bahwa kemakmuran rakyat jelata pasti akan lekas dan terjamin datangnya.
Bron:
Revolusioner
1946