Berikut ini adalah hasil bincang-bincang antara beberapa aktivis pro-demokrasi Indonesia dengan Kay Rala Xanana Gusmao, pemimpin CNRM. Ketua Xanana ditemui di tempatnya disekap, LP Cipinang, saat kunjungan Natal dan Tahun Baru. Dengan wajah berseri-seri dan tetap bersemangat, Ketua Xanana menjawab beberapa pertanyaan dari para aktivis. Inilah rekaman dialog tersebut yang sempat dicatat oleh para aktivis pro-demokrasi Indonesia.
Tanya : Apa komentar Anda terhadap pemberian Nobel untuk Mgr. Belo dan Jose Ramos Horta?
KRX (Kay Rala Xanana Gusmao): Saya harus bilang bahwa kami gembira dan bangga sekali dengan hadiah nobel kepada mereka berdua karena fakta itu menunjukkan kepada dunia dan Indonesia bahwa masalah Timor Timur masih mendapatkan perhatian internasional. Hadiah Nobel ini untuk perdamaian dan perdamaian di Timor Timur hanya bisa tercapai dengan suatu solusi yang menghargai kepentingan-kepentingan semua pihak. Rakyat Timor Timur bukannya berperang melawan Indonesia, melainkan menghadapi peperangan yang dibawa oleh Indonesia ke sana. Selama 21 tahun rakyat Timor Timur selalu menginginkan perdamaian, tapi rezim Indonesia selalu menolak sampai detik ini.
T: Saat komite Nobel mengumumkan nama mereka berdua, Ramos Horta langsung mengatakan bahwa Anda lebih pantas menerima hadiah tersebut. Komentar Anda?
KRX: Bagi saya kedua tokoh Timor Timur ini memang pantas untuk menerima Nobel ini. Ramos Horta bukan melarikan diri dari konflik yang terjadi di Timor Timur seperti yang dipropagandakan oleh rezim ini. Ramos Horta, sesudah proklamasi Kemerdekaan 28 November 1975, selaku Menteri Luar Negeri bersama sekelompok menteri lainnya pergi ke luar negeri untuk menjalankan tugas dari negara baru yang kami dirikan. Indonesia menginvasi pada tanggal 7 Desember 1975 dan sejak saat itu Ramos Horta mewakili rakyat Timor Timur di PBB. Ia menyampaikan banyak usulan perdamian, yang selalu ditolak oleh Indonesia hingga saat ini. Adam Malik sudah meninggal, Muchtar Kusuma Atmaja sudah keluar, Ali Alatas yang meneruskan politik agresi dan invasi ke Timor Timur. Mereka menolak terus menerus usulan-usulan perdamaian dari Ramos Horta. Oleh karena itu, tugas diplomatik telah dibebankan rakyat Timor Timur kepadanya. Dan dia lakukan itu sampai sekarang. Oleh karenanya dia pantas untuk menerima hadiah itu. Bukan untuk pribadinya, namun hadiah itu untuk seluruh rakyat Timor Timur yang terus bertahan dan berjuang menentang kolonialisme baru bagi Dunia Ketiga. Kolonialisme itu sendiri telah melanggar prinsip-prinsip Non Blok yang diperjuangkan oleh Sukarno dan Hatta dari dulu.
T: Sudah tahu pidato Uskup Belo di Oslo itu? Kabarnya, Menko Polkam sangat senang dengan pidato itu. Apakah Anda setuju dengan Menko Polkam bahwa Uskup tidak membicarakan politik dalam pidatonya itu?
KRX: Rakyat Maubere merasa bahwa kata-kata itu tepat sekali. Kami mengerti mengapa belakangan Uskup Belo minta maaf kepada ABRI yang membunuh, menyiksa, menteror dan memperkosa rakyat Timor Timur. Menurut apa yang kami dengar, ada kalangan yang minta untuk mengadakan debat dengan Uskup Belo. Kami kira debat itu adalah sangat dibutuhkan. Tetapi bukan hanya dengan Uskup Belo. Kami ingin mengingatkan bahwa Indonesia selalu menolak "fact finding mission" mengenai proses di Timor-Timur sejak awalnya. Dan sesungguhnya, ini karena rezim di Indonesia takut akan kenyataan sebenarnya, yang akan terungkap dan mampu menunjukkan tindakan-tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh ABRI terhadap rakyat Timor Timur sampai saat ini. Pernyataannya Susilo Sudarman itu untuk konsumsi intern, tidak ada nilainya apa-apa. Rakyat Maubere juga belajar terus mengamati situasi politik di dalam Indonesia. Bukan pertama kali Menkopolkam membuat pernyataan politik yang dianggap lelucon oleh rakyat Maubere. Namun, rakyat Maubere menyadari bahwasanya lelucon-leucon seperti itulah yang menjadi sifat politik Orde Baru. Kami banyak belajar politiknya sistem Orde Baru dari hal-hal seperti itu. Pernyatannya Menkopolkam mengenai pidatonya Uskup Belo juga menunjukkan kemiskinan pengetahuan politiknya. Kalau saja dia itu pintar, dia pasti akan malu dengan pernyataan-pernyataannya tentang, umpamanya, PDI, PRD dan problem-problem dalam negeri Indonesia lainnya.
T: Saat Uskup Belo pulang dari Jakarta, lautan manusia menyambutnya di Timor-Timur. Juga ketika dia pulang dari Oslo. Apakah Uskup memang punya pengaruh yang besar di Timor-Timur?
KRX: Ya, secara pribadi, dan lebih-lebih sebagai pemimpin gereja. Gereja Timor Timur mempunyai misi sebagai pelindung dan pendukung moral bagi rakyat Maubere. Karena itu Uskup menerima hadiah Nobel ini bukan untuk dirinya sendiri. Tetapi atas nama semua komponen gereja Timor Timur yang selama 21 tahun terakhir ini mengajar tentang keadilan, kebenaran, hak dan perdamaian.
T: Anggota-anggota PRD dan Dr. Muchtar Pakpahan didakwa subversif ketika mengusulkan referendum untuk Tim-tim. Apa komentar Anda terhadap dakwaan itu? Apakah ini cara Indonesia untuk membuat rakyat Indonesia takut dan tidak memberikan dukungan pada perjuangan Timor-Timur?
KRX: Bisa dilihat dari sudut pandang tersebut. Tetapi yang terpenting adalah untuk mengantisipasi bahaya yang muncul dari dalam masyarakat Indonesia sendiri yang mulai menerima referendum sebagai jalan yang adil untuk solusi menurut norma-norma dekolonisasi PBB. Mengapa rezim ini dengan arogannya selalu mengatakan bahwa kami hanya terdiri dari satu kelompok yang sangat kecil? Mengapa mereka selalu takut dengan referendum ? Jawabannya sangat sederhana. Para jenderal itu tahu bahwa para pendukung integrasilah yang sangat kecil jumlahnya. Dan, mereka pun lebih cenderung untuk memilih kemerdekaan. Banyak ahli politik Indonesia menghimbau adanya keterbukaan. Mereka mendefinisi Orde Baru sebagai Orde Dogmatis, Orde yang merasa dirinya tidak pernah salah. Rezim ini tidak pernah mau menerima kritik. Ia juga menempatkan dirinya di atas segala kemungkinan kesalahan. Oleh karena itulah, referendum di Timor Timur akan menunjukkan kesalahan historis yang sangat besar bagi Indonesia. Padahala, Indonesia adalah pendiri Non Blok dan anggota PBB. Pemerintah Indonesia selalu menutupi kesalahan-kesalahan politik internalnya dengan tidak membuka kesempatan untuk menerima opini publik mengenai referendum. Semua yang berbicara tentang referendum adalah subversif. Sungguh suatu cara yang praktis dan langsung untuk menutupi kesalahan dengan karakter internasional.
T: Kelihatannnya Anda akrab sekali dengan orang-orang Indonesia yang merayakan Natal di LP ini.
KRX: Ya, seperti sudah Anda lihat sendiri.
T: Bagaimana Anda melihat gerakan pro-demokrasi di Indonesia setelah Peristiwa 27 Juli?
KRX: Saya percaya bahwa gerakan pro demokrasi tidak mundur karena kaget atau takut. Setiap manusia secara alamiah adalah idealis. Prinsip-prinsip yang dia serap tidak mati jika prinsip-prinsip ini membela keadilan, kebenaran dan hak. Dan saya yakin bahwa pergerakan pro demokrasi akan terus berjalan dan mengkonsolidasi diri. Banyak intelektual Indonesia menyadari bahwa situasi politik aktual di Indonesia dan tantangan-tantangan di hari esok, seperti globalisasi, perdagangan bebas dan lain-lain. Mereka juga khawatir dengan status quo politik ini dan kebutuhan-kebutuhan dari abad yang baru.
T: Bagaimana Anda mengikuti perkembangan situasi yang terjadi di Indonesia, dan terutama di Timor-Timur?
KRX: Melalui radio, TV dan koran, dengan menghapus distorsi-distorsi yang dibuat oleh pejabat pemerintah dan pers Indonesia.
T: Menurut Anda, apakah akan terjadi suksesi pada tahun 1998? Orang lebih banyak bicara tentang Wakil Presiden ketimbang siapa yang menggantikan Soeharto. Komentar Anda? Juga, bagaimana komentar Anda tentang Megawati?
KRX: Dipandang dari konteks perkembangan politik dunia, saya sependapat dengan mereka yang mengatakan bahwa masalah politik yang paling dasar bukanlah berdiskusi tentang siapa yang akan menjadi wakil presiden atau siapa yang akan mengganti Suharto. Tapi bagaimana menjalankan suatu perubahan politik dari sistem ini. Rakyat Timor Timur tahu bahwa masyarakat Indonesia sudah cukup matang dan dewasa untuk memilih jalur kompromistis demi perubahan politik tanpa kekerasan yang mendasar. Saya mengangkat topi kepada Megawati. Dia adalah seorang wanita Indonesia yang sekarang menjadi korban dari rezim ini. Semua permainan lelucon peradilan terhadap Mega dan pendukung-pendukungnya menunjukkan bahwa tidak adanya nilai moral yang dimiliki oleh rezim ini. Kami percaya bahwa Megawati akan bertahan dalam menghadapi tentangan-tantangan yang ada.
T: Pertemuan segitiga (Indonesia, Portugal, PBB) yang harusnya terjadi bulan ini telah ditunda. Apakah ini tidak memperpanjang konflik di Timor-Timur?
KRX: Sama sekali tidak. Yang memperpanjang konflik adalah rezim Jakarta. Selama ini, Ali Alataslah yang sering menunda diskusi tentang substansi masalah Timor Timur. Rezim Jakarta sampai sekarang menerapkan strategi penundaan dengan memperpanjang waktu dengan harapan menambah dukungan dari partner-partner ekonominya. Makanya bukan penundaan ini yang memperpanjang konflik tetapi karena penolakan dari pemerintah Indonesia untuk menerima diskusi tentang substansi masalah.
T: Apa harapan Anda terhadap Kofi Annan, Sekjen PBB yang baru?
KRX: Dari pernyataan-pernyataan yang dikutip oleh pers Indonesia, saya harap bahwa sebagai orang dalam PBB yang mengetahui secara mendalam tentang konflik-konflik yang ada di kalangan anggota PBB dam berusaha untuk menyelesaikan, Kofi Annan adalah orang yang tepat untuk mendorong Indonesia agar memahami keharusan merubah sikap tentang masalah Timor Timur.
T: Peace Plan yang pernah ditawarkan CNRM sama sekali tidak ditanggapi Jakarta. Apakah Anda pernah memikirkan tawaran lain?
KRX: Konsesi-konsesi yang kami ajukan sudah sampai batas. Saya minta kepada anda untuk mempelajari Peace Plan itu. Di situ anda akan melihat bahwa tidak ada tawaran lain. Pemerintah Indonesia akhir-akhir ini sudah mengakui bahwa walaupun bagi Indonesia masalah Timor Timur sudah selesai, masyarakat Indonesia harus menerima bahwa masalah Timor Timur masih jadi masalah PBB. Ali Alatas tahu persis kenapa PBB tidak mengakui proses integrasi yang seharusnya disebut proses aneksasi. Ali Alatas juga tahu bahwa itu sama dengan invasi Irak terhadap Kwait dan pendudukan tentara Israel atas tanah-tanah Palestina. Saya kira mayoritas orang belum tahu apa artinya SUBSTANSI masalalu. Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan apa arti sebenarnya dari kata substansi masalah itu. Kita mulai dari pernyataan, mengapa PBB tidak mengakui pendudukan Indonesia atas Timor Timur? Saya bisa menjelaskan bahwa PBB punya prinsip-prinsip untuk menyelesaikan konflik-konflik antara kolonialis dan koloni. Prinsip-prinsip itu tertera dalam Piagam PBB sejak akhir perang dunia ke II, di mana banyak negara di Afrika dan Asia termasuk Indonesia, yang diuntungkan. Tahun 60-an, banyak negara baru di Afrika yang berdiri atas norma-norma dekolonisasi. Dan lewat prinsip-prinsip inilah Timor-Timur telah terdaftar di Komite Dekolonisasi PBB sejak tahun 60-an. Norma-norma Dekolonisasi menawarkan tiga cara: kemerdekaan, Federasi dengan Potensi Kolonial yang dulu atau berintegrasi dengan satu negara lain. Piagam PBB adalah suatu yang bersifat universal yang membela hak-hak fundamental semua rakyat di dunia ini, apakah besar atau kecil, apakah kaya atau miskin, untuk bebas berpikir, bebas memilih, bebas berserikat, bebas berkumpul, bebas mengeluarkan pendapat. Dengan dasar prinsip-prinsip ini satu proses dekolonisasi harus melalui proses yang bebas, jujur dan tanpa tekanan dari pihak manapun. Substansi Masalah Timor Timur sesunguhnya sesuai di dalam prinsip-prinsip PBB. Hanya saja, prinsip-prinsip itu tidak diterapkan dalam proses integrasi itu. Bisa saja pemerintah Indonesia merekayasa rakyat Timor Timur untuk setiap hari berdemonstrasi mendukung integrasi. Namun PBB tetap tidak akan mengakui. PBB tidak akan melanggar prinsip-prinsipnya yang merupakan dasar dari eksistensi PBB itu sendiri. Dan pemerintah Indonesia tahu hal itu! Oleh karena itulah pemerintah Indonesia dengan sikap obstruktif terus menerus berusaha untuk menunda-nunda solusi yang adil. Contohnya, dengan potensi ekonominya untuk membujuk negara-negara lain. Selama 21 tahun ini, Jakarta belum bisa mencabut soal Timor Timur dari PBB dan harus mengakui bahwa masalah Timor Timur masih ada di PBB. Jakarta berusaha untuk mengelabui opini masyarakat Indonesia dengan cara mencela Portugal. Kembali kepada substansi masalah, proses "Self Determination" tidak bisa menerima suatu peperangan dengan menggerakkan semua kekuatan ABRI yang mengakibatkan 200.000 korban untuk memaksa rakyat Timor Timur menerima integrasi. Proses inilah yang menjadi inti permasalahan. Oleh karena itu substansi masalah Timor Timur tidak terletak pada skenario pro atau anti integrasi, tetapi substansi masalah terletak dalam konteks Self Determination di bawah pengawasan PBB. Untuk mengakhiri saya minta kalian untuk melihat sekali lagi Peace Plan tersebut. Di sana tergambar jelas posisi kami.
T: Pernah Anda katakan bahwa pers Indonesia membantu pemerintah untuk membohongi rakyat. Bohong dalam konteks apa?
KRX: Terlepas dari masalah Timor Timur, pers Indonesia bohong dalam semua aspek kehidupan bangsa Indonesia. Sekali lagi saya mengatakan bahwa orang Timor Timur bukan anti orang Indonesia. Kami menghormati bangsa Indonesia. Kami menghormati rakyat Indonesia. Kami mengagumi usaha spektakuler dari bangsa Indonesia untuk swasembada ekonomi. Tapi kami lebih memilih jadi diri kami sendiri daripada menjadi anak asuh suatu bangsa dan negara yang besar dan kaya. Rakyat Timor Timur mengamati semua gejala-gejala sosial, politik dan ekonomi di Indonesia. Kami merasa kasihan kepada mayoritas rakyat Indonesia yang menderita akibat dari kesenjangan sosial ekonomi. Kami dengar bahwa ada jutaan orang buta huruf di DKI Jakarta ini. Setiap hari kami dengar bahwa ada jutaan anak yang tidak bisa mengikuti pendidikan. Kami dengar tentang ratusan korban berbagai penyakit. Kami pernah dengar dan lihat ratusan daerah kumuh yang penghuninya lebih menderita dari pada rakyat Timor Timur. Dan kami juga setiap hari dengar tentang pembangunan di Timor Timur. Sampai kami mau mengatakan kepada pemerintah Indonesia agar mengambil lagi aspal, rumah, mobil yang ada di sana dan bawa kembali ke Indonesia. Termasuk Patung Yesus itu. Berikan itu semua kepada rakyat di daerah-daerah kumuh di Indonesia. Dan biarkan kami berdiri sendiri! Pers Indonesia membantu pemerintah Indonesia dalam membohongi rakyat Indonesia sendiri terutama dalam memanipulasi fakta-fakta tentang proses Timor Timur. Dalam mendistorsikan dan mengarang cerita-cerita yang tidak benar tentang perjuangan rakyat Timor Timur atau tokoh-tokoh Timor Timur. Pers Indonesia cenderung menjadi corong pemerintah, hanya tahu memberitakan pandangan dari pemerintah sebagai kebenaran yang absolut.
T: Anda semua kelihatannya sehat-sehat saja, apakah ada tahanan lain yang kesehatannya terganggu?
KRX: Saya kira sudah saatnya agar semua pihak memikirkan kesehatannya pak Sukatno (seorang Tapol PKI, Red.). Dia sudah 30 tahun di penjara. Sudah tua dan sangat pikun. Dirinya pun sudah tidak dikenalinya lagi. Buang air besar dan kecil sudah tidak disadarinya lagi. Demi kemanusiaan, sebaiknya dia diberikan kesempatan untuk dirawat oleh keluarga. Atau tempatkan dia di rumah jompo agar keluarganya bisa berkesempatan untuk merawat dia.
T: Apa yang membuat Anda paling terganggu di penjara?
KRX: Menghadapi kuningisasi di TV, tiap hari ....
1 Januario de 1966
Kay Rala Xanana Gusmao
LP Cipinang - Jakarta
Indonesia