Wawancara dengan Prof. Jose Maria Sison

Diambil dan diterjemahkan dari
Asian Students Association Magazine (October 1996): halaman 18-21.

Jose maria Sison adalah pimpinan dari perjuangan pembebasan dan demokrasi nasional di Filipina. Dia adalah bekas aktifis mahasiswa pada 1970-an, yang dalam kesempatan ini mengemukakan renungannya tentang gerakan mahasiswa dan berbagai kenyataan dalam perkembangan dunia dewasa ini. ASA merupakan salah satu bagian dari rakyat seluruh dunia yang cinta kebebasan dan demokrasi. Saat ini, ia sedang melakukan dukungan kampanye internasional bagi Prof. Sison untuk mendapatkan suaka politik di negeri Belanda.

ASA: Anda pernah aktip sekali dalam gerakan mahasiswa Filipina. Bagaimana anda membandingkan gerakan mahasiswa hari ini dengan gerakan sejenis pada masa anda aktip?

JMS: Terdapat sebuah persamaan dasar antara gerakan mahasiswa ketika itu dengan sekarang. Mahasiswa yang paling militan adalah mereka yang berjuang untuk demokrasi dan pembebasan nasional, yang dilakukan dalam rangka melawan kapitalisme monopoli asing, feodalisme domestik dan kapitalisme birokrat. Mereka itu lah yang memimpin gerakan mahasiswa secara luas.

ASA: Anda telah melibatkan diri dalam mengambil prakarsa untuk membentuk organisasi mahasiswa regional. Kami mendengar bahwa anda hadir dalam pertemuan sejenis di Indonesia pada 1962. Apa saja yang menjadi isu utama dalam diskusi dan perdebatan oleh para perwakilan gerakan ketika itu? Apakah perdebatan tersebut masih terdapat dalam berbagai gerakan mahasiswa regional dan internasional saat ini?

JMS: Saya tidak mengambil bagian secara langsung dalam formasi organisasi mahasiswa regional yang mana pun, tetapi saya merupakan peserta terdaftar untuk konperensi Perhimpunan Mahasiswa Internasional di Jakarta pada 1962.

Di antara isyu utama yang diangkat ketika itu adalah pembebasan dan demokrasi nasional; penindasan dan penghisapan mahasiswa serta rakyat yang dilakukan oleh imperialisme Amerika Serikat dan kaum reaksioner setempat; sifat agresip imperialisme dan ancaman imperialis terhadap perdamaian dunia. Berbagai isyu tersebut masih tampak dalam gerakan mahasiswa regional dan internasional dewasa ini.

ASA: Tantangan utama apa saja yang dihadapi gerakan mahasiswa secara umum? Bagaimana para mahasiswa dapat mengatasinya? Peran apa yang dimainkan para mahasiswa dalam transformasi sosial?

JMS: Gerakan mahasiswa menghadapi berbagai masalah yang berakar dalam kapitalisme monopoli dan para reaksioner. Di berbagai negara kapitalis industrial, produksi tekhnologi canggih untuk mengejar keuntungan telah meningkatkan konsentrasi kapital dan menyebabkan pengangguran serta pemotongan pengeluaran untuk tujuan sosial dan pendidikan.

Situasi di negara terbelakang adalah lebih jelek. Bila di Asia Timur, sebuah akselerasi yang jauh lebih dahsyat terjadi sehubungan dengan penyedotan superprofit dengan menggunakan kapital spekulatip dan tekhnologi tinggi low-end, maka di Afrika dan negara-negara bekas blok-Soviet, berlangsung penghancuran secara terang-terangan terhadap berbagai kekuatan produktip. Saat ini, terdapat suatu kekacauan luar biasa atas tatanan dunia. Ini disebabkan oleh krisis yang semakin mendalam akibat overproduksi.

Gerakan mahasiswa harus menghadapi berbagai masalah dasar, seperti meningkatkan kesadaran revolusionernya dalam melawan imperialisme serta reaksioer, dan terlibat dalam aksi militan secara terpadu bersama dengan rakyat pekerja.

Mereka dapat memainkan peran revousioner dalam mendukung rakyat pekerja. Mereka dapat bertempur melawan penipuan idiologi dan politik seperti dilakukan oleh para imperialis dan reaksioner. Para mahasiswa tersebut dapat pula berperanserta dalam berbagai aspek transformasi revolusioner sebuah masyarakat.

ASA: Anda telah delapan tahun berada di negeri Belanda; keadaan apa yang membawa anda ke negeri ini?

JMS: Pada 1988 saya sedang melakukan serangkaian ceramah universitas di Eropa Barat. Saya pergi ke lebih dari lima puluh universitas di 16 negara. Negeri Belanda adalah basis saya di mana saya sempat menjadi konsultan sebuah universitas. Saya sedang berada di negeri ini ketika presiden Aquino pada tahun 1988 di bawah tekanan militer mencabut paspor saya. Maka, saya harus mengajukan permohonan suaka politik.

ASA: Permohonan suaka anda telah ditolak hingga tiga kali. Apa arti pentingnya untuk melanjutkan permohonan tersebut? Bagaimana kehidupan seorang pelarian politik?

JMS: Departemen Kehakiman negeri Belanda telah menolak tiga kali permohonann saya untuk mendapatkan suaka politik. Namun, Dewan Pertimbangan Negara (Raad van Staten) telah menangkis argumen-argumen Departemen Kehakiman tiga kali pula.

Saya meneruskan perjuangan untuk mendapatkan asil bukan hanya untuk kepentingan saya sendiri, namun juga untuk para pemohon lainnya yang berasal dari berbagai gerakan pembebasan nasional, yang dicegah mendapatkan asil dengan tuduhan-tuduhan palsu yang tak dapat dibuktikan. Bila saya menyerah dalam pergulatan hukum ini, maka akan berarti bahwa saya mengakui kebenaran tuduhan-tuduhan oleh Departemen Kehakiman.

Secara material, kehidupan seorang pencari asil di sini tidak lah enak. Ini bertolak-belakang dengan propaganda dan klaim untuk melawan saya oleh para pencela saya di Manila. Namun, saya akan memilih kehidupan yang begini untuk sementara ini dari pada mengkhianati prinsip-prinsip saya sembari menerima kedudukan tinggi yang ditawarkan oleh pemerintah Manila.

ASA: Oleh generasi sekarang, kadang-kadang anda disebut sebagai seorang internasionalis terbesar. Di bawah sorotan perubahan yang melanda dunia khususnya Eropa Timur, apakah masih akan terdapat harapan untuk gerakan anti-imperialis?

JMS: Ya, masih terdapat harapan besar bagi gerakan anti-imperialis dan sosialis. Optimisme saya muncul dari krisis yang semakin menjadi-jadi dalam sistem kapitalis dunia. Pada gilirannya, ini memunculkan perlawanan yang tak terhindar dari kaum proletariat dan rakyat di dunia.

Gerakan revolusioner di bawah pimpinan kaum proletariat tentu akan maju serentak sebagai akibat dari penajaman kontradiksi di kalangan imperialis, antara kaum imperialis dengan bangsa dan rakyat tertindas, antara kaum borjuis monopoli dengan proletariat. Harap diperhitungkan bahwa sistem sosial di mana-mana telah menjadi semakin eksploitatip dan opresip. Ini mendorong rakyat untuk berontak.

ASA: Wilayah Asia-Pasifik memacu baik kaum revolusioner maupun kapitalis. Menurut anda, bagaimana gerakan kerakyatan di wilayah ini dapat secara efektip bertarung melawan imperialisme? Apa pemikiran anda atas gerakan-gerakan yang terdapat di Birma, Timor Timur, Nepal, Indonesia, dan Filipina?

JMS: Diperlukan ketetapan hati dalam gerakan massa anti-imperialis. Sebagai usaha mengejar ekspor, negara di Asia Timur yang tergantung pada produksi bahan mentah dan produksi sweatshop (tempat di mana para pekerja membanting tulang untuk upah yang rendah), saat ini, telah mengalami defisit perdagangan yang serius akibat peningkatan konsumerisme di antara 10% kalangan atas penduduk; berkurangnya order berasal dari negara kapitalis industrial dan overproduksi barang-barang konsumsi manufaktur bagi negara-negara ini. Amerika dan Jepang semakin bersaing satu sama lain. Kemitraan strategik mereka sudah berada dalam keadaan tegang.

Sehubungan dengan berbagai negara yang kau sebutkan tadi, saya akan menyampaikan pemikiran saya secara sepintas saja.

Di Birma, rakyat akan menggulingkan para penindas mereka yang fasis itu, dan akan mencapai demokrasi, khususnya bila sebuah partai revolusioner proletariat berkembang secara kuat dan penggagasannya bukan lah sepenuhnya hanya berasal dari sebuah kepemimpinan semacam Aquino.

Di Timor Timur, gerakan untuk pembebasan dan demokrasi nasional adalah dahsyat. Ia akan berhasil, khususnya bila gerakan revolusioner di Indonesia dapat maju dalam perlawanannya terhadap rezim fasis Suharto. Pada gilirannya, perjuangan revolusioner yang berkelanjutan di Timor Timur dapat bermanfaat untuk kebangkitan perjuangan rakyat di Indonesia.

Di Nepal, kaum komunis mendapat dukungan kuat dari massa. Mereka dapat mewujudkan revolusi demokratik-baru ketika mereka mengembangkan lebih lanjut kekuatannya, ketika kaum reaksioner terus-terusan melemah dan gerakan revolusioner mengembang ke segala arah. Di Indonesia, sudah lama sekali rezim fasis Suharto sangat brutal dan rakus sekali. Ia harus membayar hutang darah sehubungan dengan masaker lebih dari sejuta manusia. Adalah mungkin bagi sebuah partai proletariat revolusioner untuk memperoleh kemenangan besar dalam gerakan massa demokratis secara legal dan dalam kerja front persatuan serta yang terpenting, memulai perjuangan bersenjata di beberapa daerah.
Di Filipina, krisis sistem kekuasaan terus menerus menjadi lebih parah. akibat dari gerakan rektifikasi (pembetulan), kekuatan revolusioner dan rakyat akan mampu mempeerkuat diri sendiri serta akan memperoleh perang rakyat yang semakin efektip.

ASA: Anda adalah ketua konsulitan dari NDFP untuk pembicaraan perdamaian dengan pemerintah Filipina. Efek konkrit macam apa yang dapat diperoleh dari sebuah "pembicaraan perdamaian" yang berhasil dengan pemerintah Filipina? Bagaimana pemikiran anda sehubungan dengan peran perantara PBB atau Amerika Serikat dalam pembicaraan antara beberapa gerakan dan pemerintahan yang bersangkutan (sebagai contoh: Palestina, Timor Timur, Sahara bagian Barat)?

JMS: Garis NDFP untuk sebuah perdamaian abadi dan adil tidak lah berbeda dengan garis revolusioner dari suatu pembebasan dan demokrasi nasional. "Pembicaraan perdamaian" dengan pemerintah Manila dapat maju, hanya melalui tindakan konkrit yang memuaskan tuntutan rakyat untuk pembebasan nasional dan sosial. NDFP tidak akan berhenti bertarung untuk mencapai sebuah pemerintah kerakyatan, industrialisasi nasional, land reform dan sebagainya.

Peran Amerika Serikat sebagai perantara adalah di luar masalah karena alasan yang jelas. Bahwa peran PBB tidak lah selalu menguntungkan rakyat. Harap diperhitungkan bahwa PBB berada di bawah kontrol Amerika dan para imperialis lainnya. Hak dan kepentingan rakyat dapat ditegakkan, dipertahankan serta diajukan hanya bila terdapat gerakan revolusioner yang kuat serta siap bertarung untuk itu.

ASA: Bagaimana anda akan menilai dampak dari debat dalam CPP secara nasional dan internasional?

JMS: Gerakan rektifikasi (pembetulan) yang dipimpin oleh Komite Sentral CPP telah memperkuat CPP secara idiologis, politis, dan organisasional. Sebagai hasil dari perjuangan dua-garis, kaum "kiri" yang tak dapat diperbaiki lagi serta para oportunis kanan telah tertendang keluar serta menunjukkan diri mereka sebagai pembelot yang kontra revolusioner.

Gerakan massa demokratik legal dan perjuangan bersenjata revolusioner yang mendasarkan diri dari kerja massa telah menjadi lebih kuat. Basis massa di pedesaan dan perkotaan telah diperluas dan terkonsolidasi. Perang gerilya ekstensip dan intensip, yang mendasarkan diri pada sebuah basis massa yang semakin meluas dan mendalam, sedang berlangsung.

CPP memperoleh penghargaan yang tinggi dari gerakan kelas buruh internasional karena gerakan rektifikasi tersebut. Ia berada di front depan dari gerakan kelas pekerja internasional karena ia tangguh bertahan demi pembebasan nasional dan sosialisme dalam melawan imperialisme, revisionisme dan kaum reaksioner.

ASA: Bagaimana pemikiran anda atas anggapan sementara kelompok akan perlunya membangun sebuah civil society?
Apa sesungguhnya gerangan civil society tersebut?

JMS: Menurut pandangan saya, sebuah civil society dapat dikembangkan di Filipina asalkan beberapa persyaratan berikut ini dipenuhi:

  • Rakyat telah dibebaskan dari penindasan dan penghisapan oleh kaum imperialis dan kelas sosial setempat yang menghisap serta rakyat dapat menikmati demokrasi yang sebenarnya.
  • Sebuah partai kelas pekerja revolusioner memimpin rakyat dalam membangun sebuah masyarakat sosialis.
  • Kemauan dan tuntutan rakyat dikedepankan dan diwujudkan melalui gerakan massa revolusioner.
  • Terdapat proses untuk menuntut sementara tindakan ofensip yang patut dihukum.

    Rakyat dan kaum revolusioner Filipino tidak akan belajar dari civil society dari kelompok borjuis kecil anti-komunis yang memperoleh dana dari kaum imperialis dan reaksioner serta yang menggaungkan slogan-slogan hasil kunyahan ideologi dan politik imperialis.
    Berbagai ocehan kelompok pro-imperialis tentang civil society menyebarkan ilusi bahwa hanya lah dengan perjuangan damai dan melalui reformasi di bawah peristilahan penguasa borjuis besar, sebuah civil society dapat dicapai dan bahwa mereka yang ingin menumbangkan penguasa demikian tidak lah bisa lain terkecuali tak beradab. Kelompok demikian mengkhususkan diri dalam menyembunyikan tindakan barbar kaum imperiali dan reaksioner dengan cara memfitnah serta menjelek-jelekan kaum revolusioner.

    ASA: Apa pesan anda kepada kaum mahasiswa hari ini?

    JMS: Saya mendesak mahasiswa hari ini untuk mengkutuk kapitalisme monopoli, neo-kolonialisme, revisionisme dan seluruh bentuk reaksioner dan bertarung demi sebuah masa depan yang cerah, yakni bebas dari segala ketimpangan dan keganjilan, serta membawa rakyat membangun sosialisme.

    Meningkatnya penindasan dan penghisapan di dunia saat ini menantang kaum mahasiswa untuk memberikan pemikiran kritisnya serta terlibat dalam aksi-aksi militan bersama dengan rakyat pekerja untuk menghindar dari kekerasan kontra-revolusioner dan penipuan dari kaum imperialis serta reaksioner.


    Kirimkanlah E-mail ke alamat kami / Kembali ke Index bahasa Indonesia