GENDERANG PEPERANGAN TELAH DITABUH UNTUK MENGHANCURKAN TIRANI KEKUASAAN ORDE BARU Kekuatan delapan penjuru mata angin di Indonesia akan bersatu menjadi satu. Menyatunya kekuatan tersebut sebagai pertanda bahwa Genderang Peperangan Telah Ditabuh untuk merontokkan dan menghancurkan keangkuhan tirani kekuasaan. Genderang Peperangan akan m enggetarkan persada nusantara. Rakyat pejuang akan bangkit dengan semangat persatuan dan kesatuan membebaskan Indonesia dari tirani kekuasaan agar tercipta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Pekik perjuangan akan membahana, kesadaran merdeka ak an bergema ke seluruh pelosok Nusantara. Rakyat Indonesia dengan derap langkah yang pasti akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk membebaskan negeri tercinta ini.
Penderitaan rakyat dan ketidakpastian masa depan bangsa membangkitkan laskar-laskar yang telah mencurahkan darah dan jiwanya memerdekaan negeri ini dari penjajah. Dewa-Dewi dan segenap laskar kemerdekaan akan bangkit. Mereka akan membangkitkan p ejuang-pejuang dengan semangat Persatuan dan Kesatuan untuk kesejahteraan rakyat. Kebangkitan rakyat pejuang dengan semangat dan jiwa baru akan menggerakkan kesadaran seluruh rakyat Indonesia. Kesadaran itu digetarkan oleh jiwa dan darah laskar yang tumpa h mengalir serta menggenangi tanah kemerdekaan. Semangat dan darah para pejuang akan bangkit menyusupi pori-pori kehidupan rakyat. Jadi tidaklah mengherankan apabila dalam waktu dekat akan muncul tokoh-tokoh pergerakan di tengah masyarakat. Tokoh pergerak an atau pejuang tersebut akan tampil memimpin untuk membebaskan rakyat dari belenggu tirani kekuasaan. Kebangkitan pejuang baru negeri ini dijiwai oleh laskar kemerdekaan sewaktu mengusir penjajah dari negeri ini.
Lihatlah, bahwa selama ini rakyat hanya melayani kepentingan pejabat-pejabat pemerintah dan militer. Motto "Abdi Rakyat, Abdi Negara, Wakil Rakyat, Benteng Keadilan, Pengawasan, Mobil Nasional, Partai Politik, Pembangunan Seutuhnya, dll." hanyala h slogan kosong tanpa magna. Kata-kata yang melekat di hati rakyat adalah "Sembako tak terjangkau, Penggusuran rakyat untuk proyek pejabat dan anak pejabat, DPR=5D, Pengadilan=kolusi hakim/jaksa, Pembangunan hanya untuk golongan tertentu, Pungli, kolusi, korupsi, monopoli dan nepotisme, teror, rekayasa, kambing hitam, monolog dan anti kritik,dll. Rakyat dipasung dengan berbagai produk peraturan dan wakil rakyat ikut setuju rakyat dipasung karena DPR sendiri telah dikebiri oleh eksekutif. Celakalah orang yang mau menjadi wakil rakyat sebab dia pasti dikebiri dulu sebelum masuk Gedung Senayan. Kalau sudah dikebiri tidak mungkin menghamilkan kritik terhadap pemerintah apalagi melahirkan undang-undang membela rakyat. Akibatnya republik berubah menjadi monarki. DPR hanya sebagai pelengkap penderita di negara ini. Kalau begitu siapa yang berkuasa?
Kedaulatan rakyat telah mati sejak orde baru berkuasa. Yang berdaulat adalah Lembaga Kepresidenan dan Militer. Militer kita agak unik juga kedudukannya di tengah masyarakat. Di DPR dia dapat jatah kursi tanpa ikut pemilu, di Golkar ABRI ada, jadi Fraksi ABRI dan ABRI yang di Golkar bedanya apa? Kalau ABRI netral atau sebagai alat negara yang berdiri di atas semua golongan, Indonesia pasti tenang dan aman. Tetapi kalau ABRI-nya ikut berpolitik praktis yang berlebihan tentu ABRI sulit bersikap netr al. Apa salahnya kita belajar dari negara orang lain bagaimana peran dan fungsi militernya. Kalau kita sebut pemerintahan yang militerisme tentu pejabat-pejabat ABRI keberatan, tetapi kalau kita sebut pemerintahan sipil menteri, gubernur, bupati delapan p uluh persen berasal dari ABRI. Jadi yang benar bagaimana?
Dwi fungsi ABRI tidak ada masalah asal ABRI kembali kecita-cita Jend.Sudirman. Dan bagaimana dengan tuntutan Reformasi politik, ekonomi dan hukum yang dituntut mahasiswa. Kita mengharapkan ABRI lebih arif dan bijaksana mendengarkan tuntutan perjuangan mahasiswa di seluruh Indonesia. Tuntutan mahasiswa adalah tuntutan segenap rakyat dan termasuk didalamnya ABRI. Kalau benar ABRI manunggal dengan rakyat tentunya ABRI membukt ikan keberpihakannya kepada kepentingan rakyat. Jadi, aksi dan tuntutan mahasiswa - rakyat hendaknya didukung oleh ABRI agar reformasi politik, ekonomi dan hukum benar-benar dilaksanakan sebagaimana mestinya. Semua tuntutan itu bertujuan luhur dan mulia y aitu adanya keadilan dan kemakmuran bagi rakyat. Apakah ABRI tidak menginginkan rakyat Indonesia sejahtera? Kalau ingin menciptakan iklim sejahtera yang berkeadilan bagi rakyat hendaknya ABRI bersama Mahasiswa dan Rakyat melakukan reformasi sedini mungki n untuk menyelamatkan kehidupan rakyat dan negara.
Bagaimana kalau militer tidak bersedia mengadakan pembaharuan bersama dengan mahasiswa dan rakyat? Tentu aparat harus memberi rasa aman kepada segenap rakyat bukan mendatangkan keresahan. Hendaknya praktek "penculikan" aktivitas mahasiswa, politi k dan LSM dijelaskan secara jujur dan bertanggungjawab. Masyarakat pada saat ini tidak gampang dibodohi begitu saja oleh aparat. Praktek "operasi-operasi" yang dilancarkan aparat bukan rahasia umum lagi. Masyarakat juga bisa melakukan operasi-operasi yang lebih berbahaya terhadap pejabat-pejabat sipil dan militer. Kita harus prihatin dengan keadaan saat ini dan mencerna tuntutan rakyat yang menderita. Yang melakukan penculikan tentu saja orang-orang yang "berdolar" dan masih mampu menyewa penculik bayaran . Jika hal ini dibiarkan maka tidak mengherankan rakyat dengan segala kekuatannya akan meminta pertanggungjawaban dari pimpinan negara. Apakah itu yang diinginkan?
Kedekatan DPR/MPR dan ABRI dengan pemerintah kemungkinan besar tidak ada perubahan yang berarti. Dialog yang ditawarkan hanya untuk mengidentifikasi tokoh-tokoh mahasiswa dan intelektual. Dialog itu akan melahirkan operasi untuk menangkapi mahasi swa dan kaum intektual kampus. Tokoh-tokoh mahasiswa akan diadili dan sebagian "ditanahkan". Dialog itu tidak ada artinya hanyalah siasat untuk menghancurkan pergerakan mahasiswa. Jelas-jelas pemerintah orde baru tidak ada niat untuk mengadakan reformasi politik, ekonomi dan hukum. Kalau dilakukan reformasi maka pemerintahan orde baru mungkin akan dikudeta dan kemungkinan kedua melalui people power.
Manakah diantara kedua ini yang akan menjadi kenyataan? People power suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tanpa people power tidak mungkin ada perubahan. Pemerintah dan pejabat memiliki perilaku yang tidak bisa diubah hanya dengan Pemilu, apalagi hanya melalui dialog dan himbauan. Kebobrokan ord e baru telah terakumulasi selama 30 tahun dan kebobrokan itu akan menghancurkan orde baru itu sendiri. Kita mempunyai keyakinan bahwa pemerintahan orde baru akan ditumbangkan rakyat. Kekuatan rakyat menjelma menjadi satu dengan kekuatan laskar, pejuang da n dewa-dewi. Rakyat tidak membutuhkan bantuan militer untuk menumbangkan tirani kekuasaan. Bala tentara dewa dengan kreta perangnya akan menghancurkan satuan-satuan militer yang berusaha melindungi dan mempertahankan tirani kekuasaan. Aparat akan berhadap an dengan laskar pejuang kemerdekaan yang memiliki motivasi kuat untuk merdeka. Laskar yang hanya mementingkan kedudukan, duit dan egois akan berhadapan dengan Laskar berani mati demi kemerdekaan. Laskar-laskar pejuang dibantu oleh bala tentara dewa membu ru yang menganggap dirinya sudah setara dengan "dewa". Kita akan menyaksikan dan mungkin ikut terlibat dalam peperangan itu sendiri untuk menghancurkan tirani kekuasaan agar tercipta keadilan dan kemakmuran bagi rakyat.
Pejuang-pejuang bangsa, bangkitlah! Bangkitlah dengan semangat persatuan dan kesatuan untuk menghancurkan belenggu tirani kekuasaan agar tercipta kebebasan, keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangan takut dan khawatir, kita past i menang. Penguasa tanah ini telah merestui perjuangan kita dan kemerdekaan harus kita raih dengan perjuangan dan pengorbanan. Merdeka!
Pesan dari Teman Seperjuangan :
SEMANGAT DAN DARAHKU AKAN
MENYERTAI PERJUANGANMU.
From: geblek@usa.net
Date: Thu, 02 Apr 1998 06:27:17
| Kembali ke Index |