Perjuangan Untuk Hari Esok

Oleh: Cri Suniwati

I

Pertengahan tahun ini sebentar lagi lewat. Seberapa pun pentingnya, akan berangsur lenyap dan bersembunyi di balik perputaran tahun masehi. Langit dini hari yang biru kelabu mengintip dari bawah kain jendela hijau kusam. Kokok jago dan cericit burung liar saling beradu, melantur sendiri-sendiri. Dengarlah suara burung-burung itu! Padahal, sewaktu kanak-kanak ... mendengarkan nada suaranya saja aku bisa mengetahui dengan tepat burung kecil yang hinggap di bubungan atap rumahku; murai atau gereja. Tanah Jawa menumpulkan sejumlah pengetahuan alam yang kumiliki, sekaligus menajamkan segenap intuisi kemanusiaanku yang dulu teronggok sia-sia.

Pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa, mau tak mau aku merasakan jelas perbedaan-perbedaan materialnya yang pertama dengan tanah kelahiranku--sebuah pulau kecil yang berhawa panas timah di ekor Sumatera dalam peta bumi. Apa yang diceritakan mendiang nenek dari pihak ibu terbukti bukan hasil imajinasi kunonya semata, melainkan terinderai dan nyata. Kata nenek, gula aren tanah Jawa rasanya asam dan tidak enak. Benar juga! Ubi kayunya tidak seempuk yang tumbuh di kebun-kebun rakyat di Sumatera. Tak ada jeruk kunci untuk membuat sambal. Kecap asinnya encer. Ikan-ikan laut mahal dan sulit mencari jenis yang biasa kami jadikan lauk sehari-hari, seperti ikan bawal, pari, atau hiu. Namun, lama-kelamaan aku mampu juga melahap semua 'yang serba berbeda' itu. Teori evolusi tentang leher jerapah menemukan pembenaran di sini, bahwa makhluk hidup berkembang dan beradaptasi dengan kondisi alam.

Ah, bulan Juli seperti bulan keramat, meskipun aku tidak lagi percaya pada yang serba tahayul dan mistik. Barangkali, yang kurasakan ini hanya semacam keharuan bercampur amarah, sehingga menimbulkan suasana mencekam di seputarku. Memang, dongeng hantu dan mawang ikut mengantar aku dan tiga orang adikku untuk tidur malam. Tak lain dari nenekku dari pihak ibulah yang gemar mengulang-ulang kisah tersebut demi mencegah kami bermain-main di pinggir hutan atau menerobos semak ilalang dekat kolong karena mencari buah keremunting. Bukankah yang lebih penting lagi di situ banyak ular? Aku heran, mengapa nenek harus menjelaskan bahaya itu secara berbelit-belit, sampai jauh dari tujuan?

Sebentar kemudian seolah terdengar ketukan di pintu. Siapakah yang datang sepagi ini? Daun pintu segera kutolak, menjenguk ke luar kamar.

"Siapa di luar?"

Sunyi. Tak ada orang. Di kejauhan hanya kerlip lampu-lampu jalan yang berbentuk buah labu itu berpenderan, selebihnya gelap dan sunyi. Atap-atap rumah rakyat yang terbuat dari genteng maupun rumbia nampak diam meneduhi kesenyapan penghuninya.

Hampir satu bulan aku dan putraku tinggal di sini. Penghuni rumah hanyalah seorang perempuan tua dengan anak perempuan yang sedang berangkat remaja, buruh di pabrik tekstil.

Semua orang masih terlelap. Dengkur perempuan tua dan anaknya samar-samar menghampiri telingaku. Kupandangi dinding kayu yang berserat-serat kasar dan sanggup melukai daging manusia itu. Dinding rumah ini mengingatkanku kepada masa kanak-kanak yang sudah lama lampau serta wajah mendiang kakek serta nenek yang membuatku terharu. Pada usiaku yang ke delapan belas, setelah aku merantau ke tanah Jawa, barulah kuketahui bahwa kakek dan nenek yang amat mengasihi cucu-cucunya itu sama sekali bukan kakek dan nenekku kandung. Ibuku hanya putri angkat mereka dari seorang buruh tambang yang istrinya mati bunuh diri. Rasa kekawanan telah membuat kakekku mengambil bayi yang masih merah ini dari penderitaan orang tuanya.

II

Ketika aku masih kanak-kanak, kami sekeluarga tinggal di pemukiman buruh yang terletak di wilayah perbatasan dengan sebuah perkampungan bernama Lumut. Lumut merupakan perkampungan yang khusus dihuni orang-orang Tionghoa (Cina. pen). Mayoritas mereka bermatapencarian sebagai pedagang. Kakek sering berbelanja sayuran dan kebutuhan rumah tangga--seperti beras, susu, gula, tepung mazeina, sabun mandi, odol (merek Maxam), sampo, dan lain-lain--serta mainan kanak-kanak di situ. Aku belum pernah melihat-lihat ke dalam kampung Lumut, tak dapat kubayangkan isi dan pemandangan di sana. Sampai kami sekeluarga meninggalkan wilayah perbatasan, kampung Lumut tak pernah aku kunjungi. Menurut cerita kakek, di Lumut masih banyak orang-orang Cin yang menggunakan bahasa leluhur mereka dan memiliki tocang. Aku juga tidak tahu apakah kakek mengatakan yang sesungguhnya atau sekaligus mendongeng. Penjual ikan keliling banyak yang berasal dari Lumut. Istri buruh-buruh yang tinggal di pemukiman ini biasa membeli ikan laut dari mereka, kadang-kadang bisa berhutang dan dibayar saat suami mereka menerima upah. Kakekku akrab dengan salah seorang penjual ikan, yang sudah kelihatan renta--mungkin usianya sekitar 70-an. Lelaki tua itu kukenal dengan panggilan Suk Ahau. Suk Ahau selalu mengayuh sepeda tuanya setiap hari, menjajakan ikan keliling pemukiman. Ibu, nenek, dan kakek sering memanggilnya untuk disuguhi segelas air putih dan dibekali dua kilo beras untuk dibawa pulang. Kadang-kadang, kulihat ia bercakap-cakap dengan kakek di muka rumah. Kaki kanannya agak pincang, karena ada borok besar yang dibalut kain putih lusuh. Kemudian, tiba-tiba hampir satu minggu Suk Ahau menghilang. Tukang ikan yang lain memang banyak, tetapi keluargaku adalah pelanggan tetapnya. Pada suatu hari, dalam hujan lebat, seorang pemuda dengan baju basah kuyup menggedor pintu rumah kami. Ia mengaku bernama Amin. Dia anak laki-laki tertua Suk Ahau. Kedatangannya bermaksud meminta pekerjaan pada kakek, karena sang ayah sedang sakit parah. Sayang sekali, kami hanyalah keluarga kuli. Jadi, bagaimana mungkin mempekerjakan orang apalagi membayarnya. Akhirnya, ibu dan kakek berunding untuk memberikan bantuan pada keluarga Suk Ahau. Ibu bersedia membelikan obat-obatan, meskipun sebenarnya kehidupan kami pun cukup sulit. Sewaktu Suk Ahau meninggal, aku lihat kakek tidak keluar rumah selama berapa hari. Entah mengapa, kakek juga tidak datang ke Lumut untuk melihat sahabatnya itu diperabukan dan dimakamkan secara Konghucu. Apakah karena kakek seorang pemeluk Islam yang fanatik? Aku kira, pikiran kakek tidaklah sesempit itu. Jawabannya: kakek sangat kehilangan seorang kawan, yang membuat hidupnya berarti sebagai manusia.

Kakek seorang yang lembut hati, walau di permukaan nampak pemberang. Kakek pula yang mengajarkan aku dan adik-adikku untuk mencintai buku-buku. Uang pensiun kakek sebagai buruh penambangan timah hanya digunakan untuk menyenangkan cucu-cucunya. Kakek membelikan kami buku-buku cerita, alat-alat menggambar, dan bermacam alat musik yang bagus dan mahal untuk ukuran zaman itu; gitar, harmonika, suling, dan organ. Sampai hari ini aku masih bersedih bila teringat pada almarhum kakek. Barangkali, jauh di bawah sadarku kakeklah yang banyak mempengaruhi jalan hidupku hingga seperti sekarang ini. Kakek meninggal pada tanggal 23 Juni 1984, ketika ekonomi keluarga kami dalam keadaan krisis.

Tahun 1980-an merupakan masa-masa sulit dalam keluarga kami dan keluarga-keluarga buruh lainnya, yang hajat hidup mereka tergantung penuh pada penambangan timah. Aku dengar, timah Indonesia kalah bersaing di pasar internasional. Guru-guruku di sekolah dasar mengatakan hal yang sama. Harga timah kita lebih tinggi dibandingkan harga timah negara lain yang mutunya tak jauh berbeda. Konsumen akan memilih yang belakangan. Sudah menjadi hukum pasar: bila barang berlimpah, maka penawaran rendah. Nenekku turut menambahkan bahwa timah kita semakin berkurang. Sebentar lagi habis. Saat inilah awal kepanikan yang bersifat massal terjadi. Walaupun baru sebatas psikologis, tetapi mulai tersebar ke mana-mana. Di rumah kami pun sudah terasa. Jatah ikan berkurang. Setiap mulut hanya memperoleh jatah seekor ikan tamban kecil goreng yang dimakan dengan kecap asin dan nasi. Harga sayur mahal. Beruntunglah orang yang selain bekerja sebagai buruh, juga berkebun kecil-kecilan di halaman rumah. Nasib puluhan ribu buruh beserta keluarga mereka terancam. Semua orang gelisah. Apalagi, kabar tentang PHK massal sudah beredar dari mulut ke mulut.

Kakek jatuh sakit. Komplikasi. Lever, jantung, ginjal, dan entah apa lagi. Semua organ tadi dalam keadaan rusak tak berfungsi. Tubuh yang kokoh dan kekar lantaran ditempa oleh kerja itu kini terbaring lemah menahan sakit. Pesanan meja kursi kayu dari Yuk Mimi--yang tinggal di bedeng, tak jauh dari rumah kami--terbengkalai. Ayam-ayam kampung di kandang mati terlantar. Ibu ke sana ke mari mencari obat untuk kakek, sekaligus berhutang kiri-kanan. Ayah turut mondar-mandir, mencari dokter dan sinsei yang pintar. Pada bulan kedua kakek sakit, kulihat kakek muntah-muntah. Cairan yang keluar berwarna kehitaman. Ibu panik. Nenek dan tiga orang adikku menangis tersedu-sedu di dapur. Seorang keponakan kakek yang datang dari kampung tak bisa membantu banyak, cuma komat-kamit membaca mantera. Ia minta maaf kepada ibu, karena tidak dapat mengurus kakek sebagaimana mestinya. Keluarga kakek di kampung sangat miskin. Saudara-saudara yang lain tak ada yang datang, karena kesulitan biaya.

Malam itu kakek memanggilku, cucunya yang sulung.

"Umur yai sudah tak panjang lagi, cu. Coba lihat kuku-kuku yai ini. Sudah kuning semua, sudah mengeras, dan sulit diguntingi. Artinya, sebentar lagi akan mati. Nanti kalau yai sudah tak ada lagi di dunia ini, jangan nakal-nakal. Senangkan hati ibu dan ayah, supaya tidak sakit seperti yai."

Kakek meninggal dunia pada pagi hari dan dimakamkan di kampung kelahirannya ketika matahari sedang tepat berada di ubun-ubun kepala. Jalan menuju kampung kakek mengepulkan debu yang menyesakkan dada orang-orang berduka cita. Jenazah kakek beserta para pelayat dibawa dengan oto kongsi sewaan.

Sejak sebelum kemerdekaan, keadaan jalan tersebut sudah demikian; berpasir dan berbatu-batu, tak tersentuh pembangunan Orde Lama maupun Orde Baru. Yang mengantar jenazah kakek hanyalah tetangga-tetangga kami, tak ada sanak-saudara. Saat iringan jenazah memasuki kampung, anak-anak kecil dan orang dewasa berlarian menyambut. Sanak saudara bergantian memeluk ibu dan nenek, menangis lirih. Anak-anak kecil berbaju lusuh, tanpa alas kaki memandang kuyu. Tanah berpasir itu terasa menyebarkan bau amis laut.

Kakek dilahirkan di sebuah perkampungan nelayan yang miskin, Belo Laut. Kau tak akan menemukan kampung kecil tersebut dalam peta. Dan juga tak akan mendengar namanya disebut-sebut di lain pulau ataupun di luar negeri, karena tak seorang pun yang dilahirkan serta dibesarkan di kampung Belo Laut menjadi menteri atau konglomerat. Sejak sebelum kemerdekaan, Belo Laut sudah terpencil, begitu pula penghuninya. Generasi pertama hidup dari menangkap ikan, berpusat pada kebaikan sekaligus keganasan laut. Tetapi, generasi berikutnya pergi keluar kampung dan menjadi buruh-buruh tambang. Kakek merupakan generasi pertama buruh tambang dari Belo Laut. Kata ibu, kakek bahkan pernah menjadi pengurus serikat buruh di Sumatera. Mungkin, jauh sebelum Gestapu. Itulah tentang kakekku, yang membuat aku belajar mencintai kelas buruh, karena aku memang dilahirkan di tengah kelas tersebut.

III

Buruh! Itulah kata pertama yang kuketahui setelah aku bisa bicara dan memanggil ayah dan ibu. Sebelum VOC (maskapai dagang Belanda) datang ke Sumatera, penggalian atau penambangan timah telah dilakukan. Setelah kemerdekaan, penambangan tersebut menjadi milik negara. Menurut cerita adikku, penambangan tadi sudah dilakukan sejak zaman Sriwijaya. Yang kupercayai hanyalah bahwa 'nenek-moyang' buruh tambang adalah orang-orang Tionghoa. Dari manakah asal mereka? Aku juga tidak tahu. Pelariankah? Atau sisa-sisa pasukan bajak laut yang sudah insaf? Entahlah. Sejarahku payah sekali. Orang-orang Tionghoa ini kemudian hidup damai berdampingan dengan orang-orang Melayu, pendatang dari pulau Jawa serta Sumatera, dan nelayan Bugis (yang menetap di tepi laut). Pertemuan atau kontak sosial mereka terjadi di pasar, dalam hubungan jual-beli. Setelah kemerdekaan, orang-orang Melayu dan pendatang dari Jawa serta Sumatera tadi bekerja sebagi buruh tambang. Orang-orang Tionghoa atau Cin berdagang di pasar-pasar, membuka toko-toko sandang pangan.

Makna kata 'buruh', mulai keketahui saat aku duduk di sekolah dasar. Aku adalah seorang anak yang cerdas dan berbakat dalam seni tari. Tetapi, guru kesenianku yang cantik lebih menyukai seorang temanku yang kaku dalam menari dan lamban mempelajari suatu gerakan. Ia dianak emaskan. Aku sering mengadu pada kakek. Jawaban kakek kuingat benar:

"Dia itu siapa? Ayahnya siapa? Yai juga tahu. Ayahnya pengusaha, punya pabrik kecap, pabrik biskuit, tambak udang, dan apotik. Orang tuamu siapa? Hanya buruh saja. Kuli kasar yang membanting tulang setiap hari untuk mencari sesuap nasi bagi keluarga. Kuli kasar yang bekerja pada orang lain, bermodalkan tenaga saja! Makanya, kau jangan bermanja-manja. Orang miskin seperti kita harus bekerja keras. Kalau tidak bekerja, tak bisa makan."

Sangat menyakitkan kata-kata kakek, kalau diingat-ingat. Namun, begitulah kenyataannya. Kadang-kadang, aku terbangun tengah malam di samping nenek dan adik-adikku, melihat dinding kayu rumah kami yang kasar dan serat-serat yang bersemburat di permukaan dinding tidak mampu ditutupi kapur. Aku ingin sekali menjadi orang kaya, agar bisa kutaklukkan dunia ini. Mengapa ada orang kaya dan orang miskin? Mengapa ada pengusaha dan ada buruh miskin seperti orang tuaku, seperti kakek?

"Di surga nanti, semua orang akan senang. Tidak ada yang kaya dan tidak ada yang melarat. Semua sama-sama senang, sama-sama cantik dan tampan. Semua yang kita inginkan ada di surga, bahkan tersedia sebelum kita mengucapkannya. Di surga, tak ada lagi kesedihan, rasa iri, dan dengki. Rajin-rajinlah sembahyang, nak. Biar kita semua masuk surga dan berkumpul dalam kebahagiaan di sana." Begitulah pesan ibu, selesai mengajari kami mengaji.

"Apa yai juga menunggu kita di sana, bu?" tanya Udin, adikku yang bungsu.

"Tentu, nak."

"Ah, nanti Udin tidak kenal lagi sama yai. Kan sudah berubah jadi tampan,bu."

Ibu tertawa geli bercampur haru. Aku mencium punggung tangan ibuku yang sejuk. Aku lihat mata ibu selalu jernih dan bersinar. Apakah ibu tidak pernah merasa lelah bekerja, pasrah kepada nasib semata?

Hujan turun mengguyur bumi, menyirami kenangan-kenangan yang merajalela di benakku. Tetes-tetes hujan kedengaran mengetuk genteng rumah.

IV

Kupandangi putraku yang terlelap. Ia tak mengerti apa-apa tentang ibu dan ayahnya; bahwa kami berdua menjalani kehidupan yang tidak biasa. Barangkali, kehidupan ini menjadi suatu babak lanjutan dari kehidupan yang dahulu ditempuh juga oleh almarhum kakekku dari pihak ibu.

Aku sering melihat kakek bersama 5 sampai 6 orang temannya berkumpul di rumah kami saat ayah dan ibuku pergi bekerja. Nenek membuatkan kopi dan merebus ubi untuk mereka. Kadang-kadang, aku sengaja duduk di pangkuan kakek dan mendengarkan mereka bicara. Wajah-wajah keras kelas buruh dan tatapan yang tajam memenuhi ruangan, menguakkan asap rokok yang bergentayangan. Tidak kuingat benar isi pembicaraan mereka. Hanya kata "politik", "militer", dan "kapitalis" saja yang mampu kuingat sampai hari ini. Aku berusia kurang lebih lima tahun saat itu, belum masuk sekolah dasar.

Peristiwa pembantaian massal yang dilakukan oleh militer dari Angkatan Darat-- yang didukung CIA (badan intelejen Amerika)--serta memperalat kelompok tertentu untuk menghabisi kader, simpatisan, dan massa PKI pada tahun 1965 tidak hanya menghancurkan orang-orang komunis saja (atau mereka yang dituduh komunis), tetapi juga menciptakan trauma politik yang dalam kepada rakyat dan generasi selanjutnya. Kekerasan-kekerasan yang dilakukan tentara terhadap orang-orang komunis menimbulkan ketakutan yang amat sangat di benak seluruh rakyat dan serta merta menjauhi kata "politik", tak mau terlibat di dalamnya selain untuk kepentingan pemerintah yang berkuasa. Perlawanan rakyat untuk merebut hak-haknya yang dirampas telah kembali ke titik nol. Orang memilih berdamai atau menyerah, ketimbang melawan atau memberontak. Melawan atau memberontak berarti PKI. Dan harus siap-siap ditangkap atau dibunuh, kata nenekku. Nenek bercerita tentang buruh-buruh yang dipecat dari perusahaan ketika itu, karena "terlibat" atau "SB" (Serikat Buruh). Kata "terlibat" atau "SB" ini membuat orang takut setengah mati. Beberapa tetangga kami, ada yang anaknya diculik kemudian tak pernah kembali ketika kudeta militer terhadap Soekarno terjadi pada tahun 1965. Putra Mbah Kus, Mas Trimo, anggota organisasi pelajar onderbow PKI, tetapi aktivitasnya hanya koordinator kegiatan main volley di kampung. Setelah angkatan kakek, tak ada lagi anggota keluargaku yang berani bicara politik atau mendiskusikannya, termasuk ayah dan ibu. "Ayahmu tipe orang Jawa," kata kakek, " takut menghadapi kontradiksi." Tidak hanya ayahku saja, melainkan seluruh generasinya. Pembantaian sekitar 2 juta rakyat yang dituduh PKI oleh rezim Suharto membuat orang takut pada kata "politik".

"Rakyat tidak bebas berorganisasi atau mendirikan partai yang memperjuangan hak-haknya. Semua harus masuk Golkar. Buruh dan majikan sama-sama Golkar. Penindas dan yang ditindas dimasukkan dalam satu partai. Bagaimana bisa?" ujar kakek, sambil menyalakan sebatang Commodore dan menyelipkannya di bibir.

Tahun-tahun setelah Gestapu ditandai tiarapnya seluruh kekuatan kritis dan politik kerakyatan. Semua organisasi profesi, serikat pekerja, dan partai dibentuk oleh pemerintah yang berkuasa. Rakyat tinggal masuk ke dalamnya, bagaikan kambing masuk kandang. Kakek dan teman-temannya tak lain dari sisa atau restan--istilah kakek--yang berbentuk setitik abu dari kekuatan politik rakyat yang dihancurkan, berserakan. Tak peduli komunis, sosialis, atau nasionalis. Semua dilindas oleh panser-panser rezim Suharto yang di-beking CIA.

Pemogokan buruh tak pernah terjadi di pulau kami. Orang kembali pada kediamannya atau kebiasaan feodal, kasak-kusuk di belakang saja.

V

Pada tahun 1975, pemerintah Indonesia mengirim tentara-tentaranya ke Timor Timur untuk menangkap orang-orang FRETILIN. Siapa orang-orang FRETILIN? Hal ini tidak kutemukan dalam pelajaran sejarah ketika SD, SMP, maupun SMA. Tak ada sejarah Timor Timur. Tentang invasi Indonesia tadi justru kuketahui dari cerita nenek yang sebagaimana biasanya, sedikit dramatis.

Suatu sore, aku dan adik-adikku sedang bermain di halaman. Tiba-tiba dari ujung jalan meluncur truk-truk penuh berisi tentara. Nenek langsung menyerbu ke arah kami dan berlari-lari menggiring kami ke dalam rumah, lalu mengunci pintu rapat-rapat. Kakek tengah belanja ke pasar, karena sepedanya tak ada di dapur.

"Kenapa nyai ?" Kami semua cemas.

"Sssttt ... jangan ribut-ribut. Itu tadi tentara-tentara yang baru pulang dari Timor Timur. Mereka itu semua pemakan orang, cu. Jahat. Mereka itu sudah disuntik bius, jadi disuruh apa saja mau. Kalian diam-diam saja di rumah. Jangan keluar kalau truk-truk itu lewat. Mereka juga senang makan anak-anak kecil. Dagingnya masih lunak dan manis." Wajah nenek kelihatan pucat pasi, mulutnya lantas komat-kamit membaca doa keselamatan.

Di pemukiman buruh, tentara-tentara juga sering membuat onar. Mereka gemar memukul orang, mabuk-mabukan, dan bersenang-senang dengan pelacur. Daerah pelacuran di dekat pemukiman kami, pelanggannya mayoritas tentara. Bagi keluarga kami, tentara hanyalah pengganggu ketentraman rakyat. Yang bangga dan cinta kepada mereka--kalau mau jujur--sebetulnya hanya ibu-ibu mereka saja. Sebab seorang ibu tetap menganggap putranya manusia yang baik, sekalipun seorang pembunuh.

Tentara atau aparat militer sebagai sosok yang kejam makin tertanam dalam diriku, sejak peristiwa melihat truk-truk itu. Setelah bertambah dewasa dan merantau ke tanah Jawa, berita-berita tentang Timor Timur berbeda dengan cerita nenek. Surat kabar, radio, maupun televisi menyiarkan bahwa di Timor Timur masih ada sekelompok pemberontak yang mengacau dan anti integrasi, namanya FRETILIN. FRETILIN disamakan dengan PKI.

VI

Merantau ke tanah Jawa tak bisa lepas dari pengharapan akan kehidupan yang lebih baik. Ayah mengatakan bahwa begitu aku meninggalkan tanah kelahiran, maka aku tak akan pernah kembali dalam waktu lama. Atau bahkan, tak akan kembali lagi. Nenek menangis tersedu-sedu memelukku. Rambutnya yang telah memutih dan pandangan yang mulai suram itu semakin sayup-sayup dari dunia yang terus berubah. Dan rupanya perpisahanku dengan nenek adalah perpisahan yang sebenarnya. Tiga tahun kemudian aku memperoleh telegram yang berisi tentang berpulangnya nenek. Tak ada lagi yang tersisa dari masa kanak-kanak. Terasa begitu sepi. Selama ini aku merasa jarang memperhatikan nenek. Neneklah yang bersusah payah merawat dan menjaga kami. Dalam hatiku ada semacam rasa hampa yang meluncur melewati sebuah lorong sempit yang tiada batasnya, bila teringat kepada nenek; penyesalan tak dapat merawat dan membahagiakannya di saat-saat terakhir. Sewaktu aku berjalan meninggalkan halaman rumah kami, kulihat nenek bersandar di ambang pintu dan nampak begitu sendiri dalam kesedihannya. Bayangan tubuh nenek yang kecil dan ringkih tak bisa hilang dari ingatanku.

Di tanah Jawa aku membangun dunia yang sama sekali berbeda, tetapi tetap berakar pada semua pengalaman dan keadaan hidup di masa lalu. Apakah kehidupan yang kutempuh sekarang memang keharusan sejarah kelas kami? Apa pun resikonya?

Permulaannya adalah ketika dua orang kawan dari sebuah serikat buruh datang ke kamar kontrakanku, mengajak berdiskusi tentang hak-hak buruh dan mengajak berorganisasi. Organisasi merupakan wadah kita untuk bersatu merebut hak-hak kita yang dirampas, sedangkan mogok adalah senjata kita. Dan perjuangan kaum buruh bukan hanya untuk kepentingan buruh semata, melainkan juga untuk seluruh rakyat tertindas di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau maupun tempat yang ada di muka bumi. Begitulah kata-kata Mbak Retna yang sempat dicerna oleh pikiranku yang sederhana ini.

VII

Debu tanah merah mengepul di celah-celah jemari kaki ribuan manusia. Teriakan-teriakan yang tidak jelas maknanya bergema di udara. Barisan manusia itu bergerak ke arah pusat kota, meninggalkan halaman pabrik. Kulihat kelebatan suamiku di tengah massa, timbul tenggelam. Spanduk-spanduk, poster-poster, dan umbul-umbul serikat buruh kami bergerak bersama lautan massa. Pasukan berseragam dengan senjata lengkap berjaga-jaga, membentuk formasi bertahan, terdiri dari polisi dan tentara. Orang-orang yang berdiri di pinggir jalan dan mulut-mulut lorong pemukiman memandangi poster-poster tuntutan yang lewat beriringan. Mobil-mobil dan manusia yang lalu-lalang terpaksa mengalah di jalanan. Sekali lagi kulihat suamiku bersama beberapa orang kawannya nampak memimpin iring-iringan manusia ini. Langit bulan Juli kelihatan angker dalam warna merah menyilaukan. Tetapi, bagiku hari ini lebih indah dari puisi. Aku tak peduli dengan perutku yang tengah hamil besar, berjalan kaki tertatih-tatih mengikuti ke mana iring-iringan manusia pemberani ini pergi memperjuangkan nasib yang lebih baik dari hari kemarin.

Di tengah jalan, tiba-tiba terjadi kegaduhan. Tanpa disangka-sangka tentara-tentara menyerbu dan membelah barisan massa, memukul dan menyeret-nyeret massa yang berhasil ditangkap. Kaum ibu dan perempuan menjerit-jerit histeris, lantaran jatuh bertindihan. Seorang ibu nampak menggeletak di jalan dengan kepala berlumuran darah. Dua orang tentara melemparkannya ke dalam truk. Ia sempat berteriak lantang: "Kalian semua anak durhaka! Apa kalian tidak ingat bahwa kalian juga dilahirkan dari perut ibu kalian!"

Sutikno, dari bagian gudang, cepat-cepat menarik tanganku dan memapahku menyelamatkan diri ke dalam gang-gang yang menuju pemukiman penduduk. Dari kejauhan terdengar kegaduhan dan raungan sirine. Di kejauhan masih juga terdengar sebagian massa menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan derap-derap sepatu massa yang berlari terdengar melatarinya, dikejar derap-derap larsa yang berdebam menghunjam aspal jalanan.

"Kawan-kawan, jangan mundur ... jangan lari. Rapatkan kembali barisan. Maju!" teriak salah seorang pemimpin buruh.

Tentara-tentara bersenjata tak peduli pada manusia yang dihadapinya. Mereka mengobrak-abrik barisan massa dengan mata merah dan buas. Beberapa orang buruh mengambil batu-batu di tepi jalan dan melempari pasukan berseragam itu. Anak-anak kecil di pinggir jalan ikut-ikutan melempari aparat. Bahkan, sandal-sandal jepit ikut melayang. Penyesalan pun datang belakangan. Aspal yang panas membuat kaki-kaki telanjang terasa melepuh. Puluhan orang diringkus, diseret, lalu dimasukkan ke dalam truk.

Aku mendadak muntah-muntah. Sutikno sibuk memanggil penduduk kampung untuk memapahku. Orang-orang kampung tergopoh-gopoh membantu. "Pemakan orang" itu menghadirkan kemarahan serta kebencian serentak, tidak terdamaikan. Pandanganku mulai terasa gelap.

VIII

Pagi itu warna langit biru kelabu, seperti pagi ini. Putraku tengah tertidur lelap di atas tumpukan kain perca yang hangat. Angin kencang membanting-banting pintu kamar kontrakan. Aminah, Tini, dan Cici sudah berangkat ke pabrik pada pukul 06. 45. Sejak kandunganku berusia 7 bulan sampai putraku berusia 3 bulan, aku belum bekerja kembali. Pemukiman ini makin terasa sunyi. Penghuninya selalu serentak pergi dan serentak juga pulang.

Kupandangi wajah putraku lebih teliti. Ia mirip dengan ayahnya dengan mata bulat besar yang jernih, seakan-akan ada beribu pertanyaan di kepalanya yang mungil. Tubuhnya yang lunak kuangkat dari atas dipan tanpa kasur tadi, mendekapnya erat-erat agar aku tak perlu gelagapan memikirkan tatapannya. Entahlah, tiba-tiba muncul kegelisahan-kegelisahan seorang ibu dalam diriku. Angin kencang kembali mengempas daun pintu. Bayangan suamiku bagai berkelebat diikuti beberapa kawannya melalui pintu dapur, kemudian bergelimpangan di atas tikar pandan yang sempit. Bau keringat yang pekat seakan menyerbu ke rongga hidungku. Sudah lama suamiku tidak pulang. Tiada sepotong berita pun dibawa orang tentang nasibnya. Katanya, ia diculik setelah pemogokan. Tujuh orang kawan juga menghilang, belum kembali sampai hari ini.

Pagi itu aku dan putraku meninggalkan pemukiman, menuju tempat yang baru. Seorang teman sudah menunggu kami di ujung jalan.

IX

Setelah pemogokan pertemuan-pertemuan organisasi tetap dilakukan, meskipun pihak intelejen selalu berusaha mematai-matai gerakan buruh. Putraku kutitipkan kepada ibu tua pemilik rumah tumpanganku, bila aku menghadiri rapat-rapat. Kadang-kadang, aku harus menginap di rumah salah seorang kawan atau kenalan. Ibu tua itu sudah menganggap putraku sebagai cucunya sendiri.

Di zaman ini, rakyat terus diawasi seperti melihat kupu-kupu dalam kotak kaca. Pekerjaan memata-matai rakyat ini sudah ada sejak zaman kolonial, yaitu yang dilakukan PID atau dinas rahasia bentukan Belanda pada akhir tahun 20-an. Dahulu PID mengawasi aktivitas orang-orang pergerakan, menggeledah rumah-rumah yang dicurigai sebagai tempat rapat gelap, atau membubarkan pertemuan organisasi yang menentang pemerintah Hindia Belanda. Marco, Misbach, Semaun, Tjipto, Aliarcham, dan banyak tokoh pergerakan lainnya menjadi target pengawasan PID. Bahkan, Misbach pernah diawasi siang malam oleh 4 orang recherche, yang mengetahui ke mana pun ia pergi dan siapa saja orang yang ditemuinya. Tetapi, orang-orang pergerakan itu tak pernah menyerah. Mereka terus bekerja bersama rakyat dalam mengusir penjajah, walaupun harus menjalani pembuangan ke Boven Digoel dan mati dalam pembuangan politik tersebut.

Mengapa kita bisa merdeka dari penjajah? Karena dahulu orang-orang pergerakan itu berjuang dengan tekad bahwa meskipun mereka tak dapat menghirup udara kemerdekaan rakyat dalam waktu dekat, tetapi anak cucu mereka tidak boleh lagi hidup sebagai budak penjajah. Mereka sadar bahwa perjuangan memerdekakan rakyat ialah perjuangan jangka panjang, yang mesti dimulai dan dirintis dari awal.

Perjuangan ini memang jangka panjang. Suamiku dan kawan-kawan kami tengah merintis jalan. Ini barulah permulaan.

X

Kemarin kuterima sepucuk surat dari ibu. Ayah tengah sakit keras. Aku diminta segera pulang untuk menengok ayah. Tetapi, itu pun masih ditambahi dengan kata-kata: " ... bila anaknda tak ada uang untuk pulang, tidak apa-apa. Jangan menjadi beban pikiran. Tentu ibu mengerti keadaanmu. Kirim doa untuk ayah. Dan bukan ibu ingin mendahului Allah, bila terjadi apa-apa nantinya anaknda relakan saja. Ibu juga sudah mintakan maaf untuk anaknda sekiranya ada yang membuat ayahmu marah atau sedih selama ini. Adikmu, Rahma mungkin akan ke Jakarta kalau sudah lulus SMU-nya. Ibu harap Rahma bisa tinggal dengan anaknda sementara, sampai ia memperoleh pekerjaan. Bukankah di sini banyak pabrik? Sejak ayah dan ibu dipensiunkan tempo hari, ibu sekarang berjualan nasi di muka rumah kita. Laris juga tidak, tetapi bisa menutupi kebutuhan sehari-hari. Dari dulu kita sudah hidup prihatin. Salam untuk suamimu dan si kecil. Doa dari ibu untuk semua ...."

Ibu tidak akan mengetahui bahwa saat ini putrinya tengah berjuang mengubah nasib. Ibu tidak tahu bahwa menantunya kini entah berada di mana. Bila ayah mengetahui keadaan kami tentulah penyakitnya bertambah parah. Ayah tidak setegar kakek, ditambah lagi sikap ayah yang lebih menyukai "ketentraman" itu. Tiga orang adikku belum mandiri. Mereka memerlukan biaya sekolah. Ibu dan ayah tidak pernah menuntutku membiayai adik-adik, tetapi aku tidak tega dan berusaha mengirimi mereka uang semampuku.

Dulu aku sempat berpikir untuk tidak menikah saja. Keluargaku miskin. Adikku banyak. Upahku sebagai buruh tidak mencukupi sekalipun untuk diri-sendiri. Andaikata suamiku seorang buruh, maka nasibku tetap sama. Berumah tangga tentu lebih banyak kebutuhannya, apalagi dengan lahirnya anak. Alasanku yang utama sebenarnya aku takut suamiku melarang berorganisasi. Bukankah masyarakat kita ini masih mengandung sisa-sisa feodal? Istri mesti menuruti semua kata suami. Saat berkenalan dengan suamiku, aku membuat perjanjian dengannya. Aku mungkin bersedia menikah, asalkan ia tidak melarang kegiatanku sebelumnya. Semula ia keberatan. Kemudian aku selalu berusaha mengajaknya terlibat dalam kegiatanku, sedikit demi sedikit. Lama-kelamaan ia setuju, bahkan mendukung dan turut aktif. Aku akhirnya menikah dengan Basri. Setengah karena alasan cinta, setengahnya lagi karena pengertian dan semangatnya.

XI

Kehidupan terus berlanjut. Perjuangan hidup manusia pun tak akan ada habisnya: sekarang untuk hari esok. Tidak penting lagi siapa yang membuat slogan ini. Namun, kecintaan kepada kehidupan yang hanya sebentar inilah membuat manusia terus berusaha (dan Tuhan mendukungnya). Aku terus mencari suamiku maupun kawan-kawan kami. Mencari sampai ke mana? Barangkali, putraku tak akan pernah melihat ayahnya. Sampai hari ini, aku seringkali berusaha keras mengingat wajah suamiku. Semuanya kian samar-samar. Sekarang aku menyadari bahwa waktu yang telah kami tempuh bersama-sama begitu pendek, sehingga semua yang nyata seperti mimpi.

Kokok ayam terdengar lagi, diiringi kepakan sayap yang kuat. Kukuruyuk ... Langit mulai kemerahan. Terdengar suara merdu perempuan mengaji Qur'an. Putraku masih tertidur, hampir satu tahun usianya. Ia terus tumbuh dan berkembang mengikuti hari-hari dalam kalender masehi, seperti hewan dan tanaman mengalami siklus kehidupan. Lahir, tumbuh ....

Putraku, suatu hari kau mesti membaca tulisan ibumu ini, nak. Agar kau mengerti bahwa pengorbanan demi pengorbanan yang dilakukan kakek buyutmu, ayah dan ibu, semata-mata untuk masa depan yang lebih baik bagi anak cucu kita; kaum yang tertindas. Kau pun nanti pantas melanjutkannya ....

Mungkin kau impikan
kau dapat menumpas keyakinanku
pada hari-hari bahagia
bahwa hari esok
hidup akan lebih indah
hidup akan lebih benar?

Coba, coba, bagaimana kau dapat memusnahkannya?
Dengan peluru?
Jangan! Itu sia-sia!
Sudah! Itu tak berguna

Keyakinanku berbenteng kuat
dalam dadaku yang kukuh
dan peluru yang dapat meremukkan
keyakinanku
tidak ada
tidak akan ada!
***

Catatan: puisi penutup di atas merupakan cuplikan dari sajak Nikola Vaptsarov yang berjudul "Keyakinan". Nikola Vaptsarov adalah seorang penyair, aktivis buruh, dan pejuang tanah airnya ketika melawan rezim fasis Bulgaria. Ia ditembak mati pada tanggal 23 Juli 1942 dalam usianya yang belum sampai 33 tahun.


Ke Index Bahasa Indonesia