PERJUANGAN MAHASISWA ADALAH PERJUANGAN BERSAMA RAKYAT

Sejak menjelang Sidang Umum MPR hingga saat ini media-media massa di dalam negeri maupun di luar negeri tampak bersemangat untuk meliput aksi demonstrasi yang akhir-akhir ini banyak muncul ke permukaan. Keseluruhan aksi-aksi tersebut pada intinya menuntut untuk diadakannya perubahan. Kondisi bangsa saat ini dinilai oleh banyak orang sebagai moment yang tepat untuk menggolkan hal tersebut.

Krisis ekonomi yang dimulai sejak tahun lalu telah memberikan dampak dalam segala lini kehidupan bangsa seperti ekonomi, politik, pendidikan, hukum, kebudayaan. Hal ini tentu saja dengan sendirinya semakin memperlihatkan bahwa sistem yang diterapkan oleh negara kita dalam menjalankan roda kehidupannya sangat rapuh. Sehingga sudah umum dan banyak orang yang saat ini meneriakkan reformasi total. IMF pun meminta Indonesia untuk melakukan reformasi. Dan reformasi memang harus dilakukan. Tapi ke arah mana reformasi itu harus dilakukan?

Perbaikan dalam segala bidang kehidupan bangsa Indonesia harus dijamin oleh kepastian hukum. Sedangkan yang disebut hukum bagi bangsa Indonesia adalah hukum yang berkedaulatan rakyat, bukan hukum yang hanya menguntungkan dan menguatkan penguasa. Hal inilah yang belum dicapai oleh bangsa kita hingga saat ini. Oleh karena itu yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah mengembalikan kedaulatan kepada rakyat, kedaulatan milik rakyat, kedaulatan rakyat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah siapa dan bagaimana kedaulatan rakyat dapat dikembalikan ke tangan pemiliknya?

Mahasiswa sering disebut-sebut sebagai agen perubahan karena mahasiswa memiliki potensi intelektual untuk melakukan perubahan. Mahasiswa memiliki potensi untuk mengembalikan kedaulatan rakyat -kedaulatan mahasiswa karena mahasiswa merupakan bagian dari rakyat itu sendiri- .Tetapi kondisi yang menyedihkan selama 20 tahun melanda dunia kemahasiswaan Indonesia. Lewat pengebirian organisasi kemahasiswaan, mahasiswa dijauhkan dari rakyat, dijauhkan dari lingkungannya sendiri. Mahasiswa dikungkung dalam laboratorium, dalam kelas, dalam studio. Seperti yang pernah digambarkan oleh Ali Syariati bahwa perguruan tinggi seolah-olah berada dalam peti kaca. Dapat terlihat tetapi tidak tersentuh. Hal tersebut real terjadi saat ini. Indikasi yang paling gampang terlihat adalah ketika mahasiswa tidak mampu lagi berkomunikasi dengan rakyat. Bahasa-bahasa yang dikemukakan oleh mahasiswa adalah bahasa-bahasa kaum intelektual yang tidak dimengerti rakyat. Berapa persen rakyat yang mengerti istilah demokrasi, reformasi? Sehingga tidak perlu heran jika dalam Pasar Rakyat II ITB kemarin ada ibu-ibu yang mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada krisis moneter, karena ia tidak tahu apa itu krisis moneter. Dan ini merupakan bagian dari tanggung jawab mahasiswa! Hal ini merupakan cermin bagi mahasiswa bahwa sekarang adalah saatnya untuk kembali ke rakyat!

Dalam kondisi bangsa seperti ini, kesadaran untuk bergerak sudah muncul di mana-mana. Baik mahasiswa maupun rakyat. Semua orang ingin berteriak. Tetapi yang harus mahasiswa lakukan saat ini adalah membangun aliansi mahasiswa-rakyat. Karena aliansi ini adalah aliansi yang paling kuat. Aliansi ini harus dibangun sampai pada saatnya mahasiswa benar-benar melebur bersama rakyat.

Perjuangan masih sangat panjang. Tujuan tidak akan tercapai dengan gerakan-gerakan prematur yang dapat ditebas dengan sekali pukulan. Apa yang dibangun oleh kemahasiswaan ITB saat ini baru merupakan awal dari langkah panjang yang harus ditempuh. Pasar Rakyat, eksposure, musik kerakyatan baru merupakan langkah permulaan. Karena kemahasiswaan ITB ingin mengembalikan kedaulatan rakyat ke tangan pemiliknya, dan untuk itu kemahasiswaan ITB ingin berjuang bersama-sama rakyat. Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan, baik fisik, mental, tenaga maupun kesabaran.. Keselamatan rakyat merupakan bagian dari tanggung jawab kita pula. Oleh karena itu kita tidak akan menempuh langkah-langkah konyol yang sia-sia, dan kita harus memiliki gambaran ke depan.(****)

From: Novi Ratnanoviasari
Sent: Selasa, 17 Maret 1998 19:08

From: Kabar dari PIJAR
e-mail: kdpnet@ACTIVIST.COM
Date: Sun, 22 Mar 1998 07:47:33 +0100 (MET)


Kembali ke Index