Pada tahun 1847, Marx memberi uraian-uraian di depan kaum buruh Jerman di Brussel, yang kemudian dibukukan dengan judul "Kerja-upahan dan Kapital". Dalam karyanya ini Marx mengungkap dasar-dasar ekonomi perjuangan klas proletariat. Untuk pertama kalinya, Marx menguraikan hubungan-hubungan produksi yang pokok dari kapitalisme, -- hubungan antara kaum kapitalis dengan kaum buruh upahan. Dengan demikian, Marx mengungkapkan tentang perbudakan upah. Ini merupakan salah satu jasa besar Marx, yang mempunyai arti pembaruan dalam ilmu ekonomi-politik.
Dalam "Kata Pengantar"edisi tahun 1891 dari karya Marx ini Engels menulis, bahwa "Marx adalah orang yang pertama mengadakan penyelidikan secara mendalam mengenai sifat-pencipta nilai dari-pada kerja".[34] Kemudian, mengenai biaya-produksi buruh yang menciptakan kerja, dia lanjutkan, bahwa "kita kini hidup dibawah kekuasaan produksi kapitalis, dimana suatu klas penduduk yang besar jumlahnya, yang semakin bertambah banyak, dapat hidup hanya jika ia bekerja buat pemilik alat-alat produksi -- pemilik perkakas-perkakas, mesin-mesin, bahan-bahan mentah, dan bahan-bahan keperluan hidup -- demi mendapatkan upah. Atas dasar cara produksi ini, biaya-produksi buruh terdiri dari jumlah bahan-bahan keperluan hidup itu menurut uang -- yang rata-rata diperlukan teknik baru, kelebihan hasil di atas biayanya setiap hari bertambah besar, dan karenanya bagian dari hari-kerja dimana buruh bekerja untuk menghasilkan penggantian upah-hariannya kian berkurang; akibatnya, pada pihak lain, bagian dari hari-kerja dimana ia harus menghadiahkan kerjanya kepada si kapitalis tanpa dibayar itu bertambah besar".
"Pembagian masyarakat menjadi klas segelintir orang yang luar biasa kayanya dan klas dari kaum pekerja-upahan yang tak bermilik, menimbulkan suatu masyarakat yang tercekik karena kekayaannya sendiri, sedang mayoritas yang besar dari anggota-anggotanya, hampir, atau bahkan sama-sekali tidak terlindung dari kemiskinan yang luar biasa".
Selanjutnya Engels menulis, bahwa "adalah mungkin bagi lahirnya susunan masyarakat baru, dimana perbedaan-perbedaan klas dewasa ini akan lenyap ... [35].
Dalam "Kerja-upahan dan Kapital", mula-mula Marx meninjau masalah-masalah upah kerja. Sebagaimana dalam "Kemiskinan Filsafat", dalam karya ini Marx belum membedakan antara kerja dan tenaga-kerja, walaupun dalam pengertian penjualan tindakan hidup dari kaum pekerja, yaitu pada hakekatnya adalah penjualan tenaga kerja. Dalam karya ini Marx menunjukkan, bahwa hasil dari tindakan hidup itu tidaklah menjadi milik kaum pekerja. Kaum pekerja dipisahkan dari hasil kerjanya sendiri. Yang didapat kaum pekerja bukanlah barang yang mereka hasilkan, tetapi upah-kerja, yaitu harga penjualan tenaga-kerjanya. Kaum pekerja menjual tenaga kerjanya. Tenaga-kerja diperjual-belikan sebagai barang-dagangan.
Dalam sejarah umat manusia, tenaga-kerja tidak selalu bersifat barang-dagangan. Di zaman perbudakan, budak tidak menjual tenaga-kerjanya kepada si pemilik budak. Budak, bersama dengan tenaga-kerjanya betul-betul di-jual untuk selama-lamanya kepada pembelinya. Budak itu sendiri menjadi barang-dagangan yang dapat diperjual-belikan, dapat berpindah dari tangan pemilik yang satu ke tangan pemilik yang lain. Tenaga-kerjanya tidak dapat diperjual-belikan oleh budak tersebut. Dibawah feodalisme, kaum tani hamba mempertukarkan hanya sebagian dari tenaga-kerjanya. Mereka tidak menerima upah dari tuan pemilik tanah, melahan pemilik tanah menerima upeti dari tani hamba. Tani hamba menyerahkan kepada si pemilik tanah sebagian dari hasil tanah yang digarapnya. Di dalam masyarakat kapitalis, kaum buruh bebas menjual dirinya sepotong-sepotong. Mereka melelangkan delapan, sepuluh, duabelas, limabelas jam dalam hidupnya hari demi hari kepada penawar yang tertinggi, kepada si pemilik bahan-bahan mentah, pemilik perkakas-perkakas kerja dan bahan-bahan keperluan hidup, yaitu kepada si kapitalis. Buruh tidak menjadi milik si kapitalis.
Tidak seperti budak dimiliki oleh tuan-budak. Tetapi kapitalis menguasainya untuk delapan, sepuluh, duabelas, limabelas jam dari hidupnya sehari-hari. Buruh nampaknya bebas untuk meninggalkan si kapitalis kapan mereka menghendakinya, sebagaimana si kapitalis bebas memecatnya kapan mereka menghendaki, yaitu apabila begitu si buruh tidak mendatangkan laba bagi si kapitalis. Tetapi buruh, yang penghidupannya tergantung pada penjualan tenaga-kerjanya, tak dapat meninggalkan seluruh klas kaum pembeli tenaga-kerja, yaitu klas kapitalis, tanpa menanggalkan kehidupannya. Kaum buruh bekanlah dimiliki oleh kapitalis ini atau itu, tetapi oleh klas kapitalis. Demikianlah, Marx memandang penjualan tenaga-kerja, yang menjadikan si pekerja tiada berhak atas hasil kerjanya, yang menjadikan kaum pekerja tergantung hidupnya pada pembelian tenaga-kerja oleh kapitalis. Inilah bentuk khusus perbudakan, yaitu perbudakan dari kerja-upahan.
Dalam meneliti besarnya jumlah upah-kerja, Marx menunjukkan, bahwa ini berkisar di sekitar nilai-kerja, sebagaimana harga pasaran dari barang-barang dagangan lainnya yang juga berkisar di sekitar nilainya. Penemuan Marx dalam hal ini adalah, bahwa dia memandang harga-harga pasaran sebagai bentuk berlakunya hukum nilai. Pendahulu Marx, Ricardo, juga demikian, melihat penyelewengan harga dari nilai, tetapi dia tidak mengerti tentang keharusannya yang demikian. Dalam karyanya ini, mengenai teori nilai, Marx dalam batas-batas tertentu masih memegang teori Ricardo, dengan menganggap, bahwa nilai-tukar barang-dagangan ditentukan oleh ongkos-produksi, dan ongkos-produksi adalah mendekati, atau pada pokoknya adalah sama dengan kerja.
Kemudian, Marx menganalisa kapital. Para pendahulu Marx meng-identikkan kapital dengan benda. Kaum merkantilis menganggap kapital itu adalah uang. Para penganut ekonomi-politik klasik burjuasi memberi definisi kapital sebagai akumulasi kerja, yang dimaksudkan untuk produksi lebih lanjut. Tetapi Marx menunjukkan, bahwa "hubungan-hubungan produksi sosial, berobah, diobah oleh perubahan dan perkembangan alat-alat produksi materil, perkembangan tenaga-tenaga produktif. Hubungan-hubungan produksi dalam keseluruhannya merupakan apa yang dinamakan hubungan-hubungan sosial, dalam masyarakat yang berbeda-beda, mempunyai ciri-ciri khususnya sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Masyarakat purba, masyarakat feodal, masyarakat burjuis, adalah keseluruhan hubungan-hubungan produksi yang demikian, yang masing-masingnya bersamaan waktu itu juga menandakan suatu tingkat khusus perkembangan dalam sejarah umat manusia. "Kapital adalah juga suatu hubungan produksi sosial. Ia adalah suatu hubungan produksi burjuis, suatu hubungan produksi dari masyarakat berjuis".[36]
Selanjutnya, Marx menyatakan, bahwa sejumlah barang-dagangan, sejumlah nilai-tukar berobah menjadi kapital "dengan memelihara dan memperlipat-gandakan diri sebagai kekuatan kemasyarakan yang berdiri sendiri, yaitu sebagai suatu kekuatan dari sebagian dari masyarakat, dengan jalan penukarannya dengan tenaga-kerja yang langsung, yang hidup. Adanya suatu klas yang tidak memiliki apa-apa, kecuali kesanggupannya untuk bekerja adalah syarat pendahuluan yang diperlukan bagi kapital". [37] "Jadi, kapital bersyaratkan pada kerja-upahan; kerja-upahan bersyaratkan pada kapital. Mereka dengan timbal-balik mensyaratkan hidupnya satu sama lain; mereka dengan timbal-balik melahirkan satu sama lain".[39]
"Makin cepat bertabahnya kapital yang ditujukan untuk produksi, yaitu kapital produktif, makin makmurlalh karenanya, industri, makin banyak berjuasi memperkaya dirinya dan makin baik jalan perusahaanya, maka makin banyak kaum buruh yang diperlukan kaum kapitalis, makin mahal kaum buruh menjual dirinya sendiri. Oleh karena itu, syarat yang diperlukan untuk keadaan buruh yang agak baik ialah pertumbuhan kaptal produktif yang secepat-cepatnya".[40]
Tetapi pertumbuhan kapital produktif itu berarti "pertumbuhan kekuasaan kerja-yang-telah diakumulasi atas kerja-hidup, pertumbuhan penguasaan burjuasi atas klas buruh. Jika kerja-upahan menghasilkan kekayaan bagi orang lain yang menguasai dirinya, yaitu bagi kekuasaan yang bermusuhan dengan dirinya, kapital, maka alat-alat kerja (Beschaftigungsmittel), yaitu bahan-bahan keperluan hidup, mengalir kembali kepadanya dari kekuasaan yang bermusuhan ini, dengan syarat bahwa ia membuat dirinya sekali lagi menjadi sebagian dari kapital, menjadi pengungkit yang melempar kapital kembali ke dalam suatu gerak pertumbuhan yang dipercepat"[41]
Marx dengan teliti menyelidiki tentang apa yang dimaksud dengan perkembangan kapital produktif, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan kaum buruh. Kesimpulan Marx adalah demikian: perkembangan kapital produktif adalah bersamaan dengan meningkatnya kekuasaan kerja yang-diakumulasi atas kerja hidup, bersamaan dengan kian berkuasanya kekuasaan burjuasi atas klas pekerja.
Dengan menganalisa faktor-faktor yang memainkan pernan, yang seiring dengan akumulasi kapital (pembagian kerja, perkembangan teknik, penggantian kerja trampil dengan yang tidak trampil, meningkatnya pengangguran), Marx menyimpulkan tentang kian melaratnya klas pekerja. Marx pada hakekatnya menemukan masalah pemelaran relatif dan pemelaran absolut dari klas pekerja yang disebabkan oleh akumulasi kapital.
Dalam karyanya ini, Marx juga menguraikan perbedaan antara nilai kerja dengan nilai yang menciptakan kerja. Dia menggaris-bawahi bahwa penggunaan kerja, sebagaimana halnya penggunaan setiap barang-dagangan yang telah dibeli, adalah merupakan milik si pembeli, dalam hal ini milik si kapitalis. Tidak semua hasil kerja menjadi milik si pekerja. Oleh karena itu, si kapitalis mengantongi sendiri kerja yang tidak dibayarnya dengan melanggar hukum nilai. Inilah yang merupakan inti teori nilai-lebih.
Burjuasi mengajarkan, bahwa terdapat kesamaan kepentingan antara kaum buruh dan kaum kapitalis. Marx memblejeti ajaran ini, dengan menunjukkan bahwa kapital dan kerja-upahan adalah dua segi dari suatu hubungan kemasyarakatan. Dua segi ini, yaitu klas kapitalis dan klas buruh justru mempunyai kepentinan dua klas yang saling bertentangan, yaitu kapitalis -- berjuasi -- adalah klas penghisap, dan di segi lain kaum pekerja, adalah klas terhisap.**
Catatan bibliografi:
[34] Marx "Kerja-upahan dan Kapital", Pilihan Karya Marx-Engels, jilid I,
edisi Inggeris, hal. 68.
[35] Idem, hal. 73
[36] Idem, hal. 84
[37] Idem, hal. 85
[38] Idem, hal 86
[39] Idem
[40] Idem
[41] Idem
** Disalin dari tulisan Salam, Juli 1981, Lahirnya dasar-dasar sosialisme ilmiah: Marx-Engels mengenai dasar-dasar sosialisme ilmiah dalam karya-karyanya a.l. "Kerja Upahan dan Kapital".
| Ke Index Bahasa Indonesia |