Apa yang kita perjuangkan adalah benar. Semua propaganda hitam yang ditebar oleh rezim penguasa adalah untuk mematahkan perjuangan kita. Rakyat dan klas pekerja yang kita bela dan perjuangkan,- adalah pedang tajam yang mengancam kelangsungan penindasan. Perjuangan kita adalah satu dengan penderitaan panjang massa rakyat. Perjuangan yang selalu berhadapan dengan kebohongan, kemunafikan, perlakuan tidak adil, teror, penangkapan, penyiksaan, penjara bahkan kematian. Semua itu yang pasti harus dihadapi oleh setiap perjuangan yang sungguh-sungguh.
Dalam perkembangannya perjuangan kita mengalami peningkatan kwalitatif, demikian halnya dengan resiko yang harus dibayar. Semula dengan hanya berlandaskan komitmen-komitmen moral,-yang berkonsekwensi rendah. Namun sejarah yang terus berjalan, semakin mendapatkan siraman sinar kebenaran,- ketepatan pilihan tentang apa yang harus dikerjakan, yang kita dapatkan secara ilmiah,-bukan mengada-ada. Seperti hamparan tanah tandus dan kering mendapatkan siraman air hujan dan matahari,-menyuburkan tanah tersebut agar berguna buat kehidupan.
Tujuan perjuangan kita,- adalah kemerdekaan dari semua bentuk menindasan atas diri rakyat semua, yang selama ini menderita secara ekonomi, politik dan budaya.Secara historis semua itu tidak akan pernah datang begitu saja dan gratis, atau hanya tinggal sebagai sebuah pesan. Tapi harus dibuktikan oleh setiap orang yang sedar akan hidup yang terus berhadapan dengan agresi kaum penindas, yang tidak pernah puas kalau rakyat tidak habis kering darahnya oleh mesin-mesin penghisapnya.
Kita ini bukan siapa-siapa, seorang kawan pernah mengingatkan bahwa kita adalah generasi anak haram yang tumbuh dari keharusan sejarah. Yang harus setiap hari mengasah ketajaman otak dan kemampuan kita untuk berhadapan dengan hidup yang semakin lama semakin keras dan memojokkan generasi kita ke parit-parit sejarah yang hina dina. Kita hanya harus menempa dan mengasah pedang kita. Atau dengan sabar perlahan menumburkan kepala kita pada tembok kekuasaan sombong, dan setiap darah yang mengucur ditembok itu akan mengalir menghidupi bunga yang tumbuh menjalar, yang akan terus merambat, mengungkung dan satu saat akan meruntuhkan tembok itu. Apa lagi yang jadi takdir hidup kita, ditengah kebuasan penindasan.
Patutkah kita lari, buang muka dari penderitaan yang melilit leher rakyat ? Let your pain be my sorrow (Sting), and the world will be as one (John Lennon). Biarlah surga masa depan menjadi milik kita bersama, bukan milik sendiri-sendiri. Kita bukan siapa-siapa, selain harus tetap pada garis perjuangan yang sudah kita patri bersama-sama dalam sejarah umat manusia.
Secara jujur harus kita akui, bahwa perjuangan yang sudah dirintis bukan milik kita sekarang tapi milik massa depan, milik rakyat yang kita perjuangkan. Pimpinan-pimpinan (yang kita pilih dan tunjuk sendiri), yaitu kawan-kawan dekat kita juga, sudah mengorbankan hidup mereka dalam penyiksaan fisik maupun jiwa dan pasti akan menjalani penjara. Semua yang sedang mereka hadapi adalah pilihan sedar mereka untuk kita semua, untuk massa rakyat yang kita bela dan perjuangkan. Lewat seorang kurir, kawan-kawan pimpinan kita telah mengibarkan seruan: Penjara tidak akan membuat kami jera ! Masih ingatkah kita bahwa sebagian besar dari mereka hidup digerogoti penyakit kronik dari TBC, Radang usus, lever, Ginjal, Geger Otak dan lainnya. Ingatkah kita bahwa sebagian dari mereka meninggalkan orang tuanya yang menyayangi mereka (sebagian keluarganya dalam keadaan ekonomi yang parah), meninggalkan kuliah harapan kedua orang tua dan orang-orang yang mereka kasihi. Tapi mereka tetap teguh mengepalkan tangan perjuangan-perjuangan mereka.
Ketakutan dan kepanikan kita adalah wajar, namun otak yang ada harus segera bisa mengatasi semua itu. Tidak ada alasan bagi kita untuk mundur. Semua teror yang kita hadapi sekarang hanyalah seujung kuku dibandingkan penderitaan yang sudah dihadapi massa rakyat. Ingatkah kita pada teror yang dipikul rakyat di tahun 1965, Aceh, Maubere, Papua dan Lampung ? Terbayangkah kita pada Marsinah dan jutaan kaum pekerja lainnya yang hidup dikolong-kolong teror dan kemiskinan ? Semua tragedi manusia Indonesia ada di benak kita dan tidak akan pernah bisa dihapus oleh air mata dan kata-kata kosong !
Seorang kawan dari Yogyakarta, bercerita tentang seorang ibu (40-an tahun, anggota PDI-Mega dan simpatisan PRD) datang memohon agar menyampaikan pesan pada Budiman supaya jangan sampai membubarkan PRD, karena hanya PRD yang dia anggap secara sungguh-sungguh berjuang untuk massa rakyat. Walaupun dicerca dan dihina sebagai komunis, ia minta supaya PRD tetap teguh dan setia pada perjuangannya.Cucuran air matanya adalah tuntutan terhadap janji dan sumpah kita.Teror yang akhir-akhir ini kita hadapi, adalah suatu awal ujian, yang akan menuntut semua janji setia kita pada perjuangan massa rakyat.
Perjuangan massa rakyat yang kita pimpin bukan saja berhadapan dengan rezim penguasa, tapi juga berhadapan dengan kaum opurtunis dan munafik yang selalu menjilat penguasa sambil menginjak-injak hak massa rakyat. Mereka adalah alat-alat penguasa untuk menakut-nakuti massa rakyat dengan jampi-jampi setannya. Perjuangan kita juga berhadapan dengan pengkhianatan dari elemen-elemen penetrator yang berusaha merusak dan menghancurkan gerakan massa rakyat dari dalam.Yang tertawa terbahak-bahak melihat teror menimpa kita. Mereka juga bisa berbicara sama tentang pembebasan rakyat dan demokrasi, namun tangan mereka belum kering oleh darah massa rakyat yang mereka bantai. Mereka akan tertawa berjingkrak-jingkrak kesenangan melihat kita jirih, dan akan berpesta pora untuk merayakan kemenangan mereka bersama rezim sambil menyanjung-nyanjung pimpinan-pimpinan boneka yang akan menjadi penipu-penipu baru buat rakyat ! Kelak pada saat rezim lama tumbang dan rezim boneka baru berkuasa, maka massa rakyat akan dua kali lebih menderita, karena kemenangan yang seharusnya direbut oleh rakyat, telah dirampok,- untuk kemudian digunakan membantai perjuangan massa rakyat lagi !
Mata hati kita tidak akan bisa ditipu, namun memang sulit dan melelahkan untuk membangun massa depan yang berdaulat bagi massa rakyat ! Memang, Beberapa tokoh demokrat yang tadinya dekat dengan kita, sekarang malah ikut-ikutan menginjak kita. Mereka ikut ketakutan dan memilih lebih baik menjauhi kita. Watak demikian yang dari dahulu mengelilingi gerakan massa rakyat yang kita bangun selama ini. Dahulu mereka memeras keringat kawan-kawan kita. Menjadikan pekerjaan kita sebagai proyek-proyek dana mereka. Sambil sesekali hadir ditengah perjuangan massa dan menunjukkan komitmenya terhadap perjuangan rakyat. Mereka racuni beberapa elemen-elemen opurtunis didalam tubuh gerakan untuk kemudian menjadi kaki tangan mereka yang setia. Dan semua yang menjadi darah dan daging mereka adalah keringat kerja keras kita membangun gerakan masssa rakyat.
Namun kini apa yang mereka lakukan adalah dengan menganggap PRD, partai kita untuk sebagai kurap yang patut untuk dijauhi, mereka usir kawan-kawan kita yang datang untuk minta tolong hanya tumpangan menginap karena diluar tidak aman.Beberapa dari mereka ikut mencaci dan menista kita. Sebagian lagi ikut menyalahkan kita, yang katanya membawa kiat bagi gerakan pro-demokrasi mereka. Mereka memang tidak akan pernah jujur terhadap keadilan dan menghargai sopan santun berpolitik, karena mereka lahir dari rahim yang sama dengan kita,-rahim Orde Baru, cuma tulang dan darahnya saja yang kotor oleh moderasi uang dan karir,- yang menghambur-hamburkan uang rakyat di club-club malam bersama sekertaris mudanya, rumah bordil dan diskotik,- sepulangnya dari kantor mereka yang ber-AC.
Viva kaum pro- demokrasi ! Perjuangan dan tingkahmu akan kami kenang. Kaum seperti mereka tidak akan pernah habis dan akan selalu mengganggu gerakan massa rakyat kapanpun dan dimanapun juga ! Mereka akan selalu mengintip setiap kesempatan yang bisa mereka colong, dengan air liur menetes seakan melihat gerakan demokrasi sebagai dewi yang bisa sewaktu-waktu diajak kencan, digilir atau dipaksa diperkosa. Itulah mereka yang kini penuh kebencian menatap kita saat mengetuk pintu rumah mereka. Watak ini wajar tumbuh dan membesar di iklim demokrasi Pancasila Orde Baru ini. Mereka tidak segan-segan berkolaborasi dengan rezim penindas atau dengan pemilik modal dan kekuatan asing imperialisme !
Kita tidak sama dengan mereka, dan kita tidak akan tunduk dengan mainstream mereka. Kita tidak akan tunduk pada barisan opurtunis itu. Penderitaan yang sudah kita telan selama ini mengajarkan kita untuk mandiri dan setia teguh pada perjuangan massa rakyat. Sejengkalpun kita tidak akan pernah mundur ! Kita berjuang bukan karena uang atau karir politik tapi hanya untuk kemenangan massa rakyat dan demokrasi yang sejati !