Hari Kamis, 14 Mei, mahasiswa dan rakyat bangkit dengan pemberontakan massa di Jakarta - Bogor - Tangerang - Bekasi (Jabotabek). Sementara mahasiswa di segenap tanah air mengadakan unjuk rasa di kotanya masing-masing. Pemberontakan rakyat di Jakarta telah membuat ibukota lumpuh karena pemberontakan itu meluas dan serentak di mana-mana.
Rakyat yang kelaparan merampas barang-barang di supermarket-supermarket, membakari bangunan dan kendaraan bermotor. Pemberontakan ini berlangsung terus hingga dini hari 15 Mei 1998. Aksi-aksi ini meluas hingga ke kompleks-kompleks perumahan.
Alat-alat kekuasaan sudah tidak mampu menghadapi perlawanan rakyat. Di mana-mana massa tidak bisa dicegah untuk melakukan penyerangan. Bahkan aparat militer banyak yang mengalami demoralisasi.
Presiden Soeharto telah menyatakan siap mengundurkan diri apabila masyarakat sudah tidak mendukungnya. Hal ini menunjukkan bahwa diktator Soeharto dan mesin kekuasaannya sudah terpojok akibat serangan terhadap dirinya yang terus dilancarkan oleh massa rakyat.
Untuk itu, Komite Pimpinan Pusat - Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) :
A . Menyerukan kepada rakyat :
1 . Untuk tidak melakukan kerusuhan-kerusahan yang bernuansa suku, agama,
ras, dan antar golongan SARA ! Kita tidak boleh merusak, merampas ataupun
menyakit,i bahkan membunuh saudara-saudara kita yang berketurunan Tiongoa.
Bukan warga Tionhoa-lah sumber kesengsaraan rakyat, melainkan Soeharto dan
antek-anteknya. Banyak saudara-saudara kita yang keturunan Tionghoa Cina pun
menderita dan ditindas oleh Soeharto. Penyerangan dan perampasan terhadap
saudara kita yang keturunan Tionghoa justru akan melemahkan perjuangan kita
dan menguntungkan Soeharto, sebab hal ini hanya akan berakibat terjadinya
bentrokan sesama rakyat.
2 . Untuk memfokuskan penyerangan dan perampasan terhadap milik kroni Soeharto, milik pemerintah, pejabat, dan milik ABRI. Sekali lagi, jangan merusak dan merampas milik sesama rakyat !
3 . Bergeraklah ke pusat-pusat kota dan tempat-tempat, seperti kantor pemerintahan dan markas ABRI/polisi.
B . Kepada para figur pro-demokrasi :
1 . Kepada Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, Sri Bintang Pamungkas,
Budiman Sudjatmiko, dan yang lainnya, sudah saatnya Anda menyatakan siap
mengganti Soeharto. Hal ini harus kita lakukan segera karena Soeharto sudah
tidak
dikehendaki oleh rakyat dan diapun sudah siap mundur.
2 . Kita harus menolak berkolaborasi dengan ABRI karena dalam demokrasi modern, militer tidak boleh mencampuri urusan politik. Maraknya kekerasan politik dan hancurnya demokrasi di Indonesia adalah akibat militer diperbolehkan memasuki dunia politik dengan legitimasi Dwi Fungsi ABRI.
3 . Kita harus segera menyiapkan Dewan Rakyat Merdeka, sebagai ganti DPR/MPR.
C . Kepada prajurit dan pegawai negeri :
1 . Lepaskan baju seragam anda dan bergabunglah bersama rakyat. Sudah
saatnya anda meninggalkan Soeharto.
D . Kepada diktator Orde Baru :
1 . Hentikan tindakan-tindakan brutal terhadap rakyat, sebab hal tersebut
hanya akan memperluas dan menciptakan kehancuran dimana-mana. Sudah terbukti
selama ini bahwa kerusuhan-kerusahan yang terjadi adalah merupakan akibat
tindakan militer yang represif. JIka mahasiswa/rakyat diijinkan melakukan
rally, mereka selalu melakukan aksi secara damai.
2 . Presiden Soeharto harus sungguh-sungguh mundur. Pernyataan bahwa ia siap untuk mengundurkan diri yang baru saja diucapkan jangan hanya menjadi basa-basi politik semata.
3 . Panglima ABRI, Pangdam Jaya, dan Kapolda Metro Jaya harus segera mundur karena sudah terbukti melakukan tindakan kejam terhadap mahasiswa dan rakyat. Di samping itu mereka sudah tidak mampu menjalankan fungsinya.
4 . ABRI harus segera mengakhiri kegiatannya di bidang politik. Keterlibatan ABRI dalam urusan politik telah mengakibatkan matinya demokrasi dan maraknya kekerasan politik.
Demikian statemen ini.
Jakarta, 15 Mei 1998
atas nama KPP-PRD
Mirah Mahardhika
=eof=
Sumber:
PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK ( P R D )
PEOPLE'S DEMOCRATIC PARTY, INDONESIA
Europe Office
E-mail : prdeuro@xs4all.nl
Date: Fri, 15 May 1998 03:00:08 +0200
| Kembali ke PRD |