INFO-PEMBEBASAN


Wawancara dengan Koordinator Komite Pimpinan Pusat -
Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD), Mirah Mahardika.

MIRAH MAHARDHIKA :
SEMAKIN TERBUKA JALAN MENGGULINGKAN SOEHARTO

PEMBEBASAN (P) : Sidang Umum - Majelis Permusyawarata Rakyat (SU-MPR) sudah di depan mata. Baik pihak rejim maupun oposisi nampaknya sama-sama siap merespon momentum ini. Bagaimana sebenarnya posisi masint-masing. Siapa yang ada di atas angin ?

Mirah Mahardika (MM) : SU-MPR merupakan peristiwa politik, atau momentum yang penting, maksud saya secara legal-formal, di samping pemilu, karena ini berkaitan dengan proses melegitimasi penguasa republik, dalam hal ini tentunya Soeharto. Kemenangan Golkar, pastilah akan disusul dengan naiknya Soeharto sebagai presiden. Naiknya Soeharto menjadi presiden dilegitimasi oleh SU-MPR tersebut.

Namun, sebenarnya secara politik riil, di luar legal-formal, kekuasaan Soeharto dan rejimnya ini sudah tumbang. Rakyat dimana-mana mengamuk. Apa yang dapat dilakukan Soeharto dengan tentaranya yang begitu banyak ? Kewalahan khan ? Lalu, secara ekonomi, apa yang dapat dilakukan Soeharto untuk mengatasinya ? Ada likuidasi bank, ada uang ketat, ada gerakan cinta rupiah, ada minta bantuan IMF, dan sekarang akan diterapkan CBS. Mungkin nanti entah apa lagi. Tapi semuanya sia-sia. Ini adalah fakta, bahwa Soeharto sudah tidak mampu mengontrol lagi.

Oleh karena secara politik riil Soeharto sudah jatuh, maka legitimasi legal-formal menjadi sangat sangat penting. Soeharto akan mati-matian agar SU-MPR ini sukses, dan lalu tentunya dia akan jadi presiden lagi.

P : Tapi, nampaknya oposisi juga siap-siap melakukan protes atau memboikot, untuk menggagalkan SU-MPR? Apakah demikian ?

MM : Sejak dahulu PRD menyerukan untuk memboikot SU-MPR, karena SU-MPR, seperti juga pemilu, hanya menjadi boneka Soeharto. Dan, tentunya bukan hanya PRD yang punya program memboikot SU-MPR ini. Banyak sekali kelompok.

Nah, nampaknya rejim ketakutan itu. Maka dikerahkanlah pasukan banyak-banyak.

Tapi, kita sangat diuntungkan oleh kondisi obyektif, yaitu kemarahan rakyat yang semakin meluas akibat kegagalan ekonomi Orde Baru dan naiknya Soeharto lagi sebagai presiden.

P : Bagaimana bentuk pemboikotan SU-MPR nanti ?

MM : Seharusnya rakyat turun ke jalan-jalan, demonstrasi. Tapi, ini mungkin akan lebih berat --walaupun bukan tak mungkin-- karena represi dari militer pasti gila-gilaan. Kita dapat lakukan ini dengan cara-cara simbolis, seperti mengenakan warna pakaian tertentu, atau pakai ikat kepala, atau bawa bendera warna tertentu. Tapi yang penting, rakyat berkumpul, walaupun tidak demonstrasi. Bisa duduk-duduk di kantor-kantor, di sekolah-sekolah, di kampus, di terminal, di mulut-mulut gang, dan sebagainya.

P : Bukankah PRD mendukung pencalonan Megawati sebagai presiden. Nah apa yang akan dilakukan PRD sehubungan dengan ini pada waktu SU-MPR ? Bukankah PRD juga memboikot SU-MPR ?

MM : Adalah ilusi jika kita berharap Megawati, Sri Bintang, atau calon presiden lain, selain Soeharto, akan dibahas oleh SU-MPR. Para anggota MPR kan boneka Soeharto. Semua fraksi sudah mencalonkan Soeharto. Oleh karena itu, rakyat sendiri yang harus mendesak MPR untuk mencalonkan. Caranya, ya dengan demonstrasi, atau menempel poster Megawati di mobil, tembok, dan lain-lain. Atau juga bisa dengan menuliskan nama Megawati di tembok-tembok. Untuk menarik dukungan rakyat, kita juga harus membagi-bagikan gambar Mega atau tulisan nama Mega.

P : Kemarin mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang berjumlah ribuan melakukan unjukrasa. Bahkan mereka menutup slogan kampus UI sebagai "Kampus Perjuangan Orde Baru" dan digantikan dengan "Kampus Perjuangan Rakyat."

MM : Dalam sejarah perpolitikan Indonesia, mahasiswa itu telah menjadi mitos sebagai agen perubahan. Turunnya mahasiswa UI, dengan jaket kuningnya, mengingatkan rakyat pada tahun '66, yaitu saat penggulingan Soekarno, walau pun toh waktu itu merupakan rekayasa Angkatan Darat juga.

Saya pikir, unjuk rasa mahasiswa UI ini harus bisa menyeret mahasiswa lain dan sektor rakyat lain, seperti kaum miskin kota, buruh, penganggur, ibu-ibu, para jemaah, sopir, dan sebagainya. Yang lebih penting lagi, para mahasiswa UI harus membuka diri dan bahkan mengajak mahasiswa lain dan sektor rakyat yang lain untuk bergabung dalam aksi tersebut. Sebab, apabila terus-menerus aksi sendiri-sendiri, nantinya tidak akan ada akumulasi kekuatan rakyat. Akibatnya, aksi tersebut tidak akan menjadi apa-apa, kecuali hanya sebuah romantisme belaka.

Begitu pula bagi mahasiswa di luar UI. Dengan adanya aksi besar di UI ini, seharusnya bisa juga melakukan di kampusnya. Aksi UI ini bisa menjadi semacam agitasi bagi mahasiswa di kampusnya masing-masing.

P : Apa strategi PRD kalau Soeharto tidak tumbang setelah SU-MPR ?

MM : Hampir dapat dipastikan, jika SU-MPRD sukses, Soeharto pasti terpilih lagi. Dan kita tidak yakin Soeharto akan tumbang, jika rakyat tidak turun ke jalan selama SU-MPR. Tapi, momentum SU-MPR ini bisa dijadikan momentum untuk menumpahkan rakyat di jalan-jalan. Dan walaupun Soeharto tidak tumbang, situasi politik selanjutnya akan menyulitkan rejim. Sebab, dengan naiknya Soeharto, rakyat akan semakin benci, dan pastilah akan ada friksi-friksi di dalam rejim. Dan kita semua tahu, Soeharto adalah konservatif. Dia tidak mau melakukan perubahan besar-besaran untuk mengatasi krisis ini. Akibatnya, krisis akan semakin parah, dan rakyat semakin benci. Dengan demikian, akan semakin banyak rakyat yang memimpikan perubahan.

P : Apakah kalau Soeharto naik lagi, rakyat akan semakin sengsara ?

MM : Pasti. Soeharto sejak dahulu menjadi alat modal asing. Setelah krisis ini, Soeharto kembali menyembah modal asing. Coba lihat apa program reformasi yang diberikan oleh IMF terhadap Indonesia ? Pengurangan subsidi, dan pengurangan tarif. Ini semua hanya memudahkan modal asing, namun sekaligus juga menyengsarakan rakyat.

P : Tapi Soeharto kan juga berkonflik dengan modal asing, semisal dalam masalah CBS ?

MM : Konflik Soeharto dengan modal asing, jika sudah menyangkut kepentingan diri dan pengusaha kerabatnya. Tapi secara prinsipil tidak. Dan itu dapat diatasi dengan konsesi-konsesi.***
=eof=

From:
PRD - EUROPE OFFICE
e-mail: prdeuro@xs4all.nl
Mon, 2 Mar 1998 07:23:48 +0100 (MET)


Kembali ke Index