Info Pembebasan


BOM WAKTU DI BAWAH KAKI SUHARTO

Ali Alatas pernah mengatakan bahwa isu Timor Timur adalah kerikil dalam sepatu diplomasi Indonesia. Rupanya Ali Alatas salah mengerti tentang isu Timor Timur, bahwa sebenarnya bukan sekedar kerikil melainkan bom waktu yang setiap saat bisa meledak dan menjadi bencana bagi pemerintahan Suharto.

Karena isu Timor Timur maka sekarang Suharto diprotes dimana mana, di Afrika Selatan COSATU telah menggelar demonstrasi mengutuk invasi Indonesia atas Timor Timur. Kemudian sesampainya Suharto di Canada, 300 mahasiswa dan aktivis dari East Timor Alert Network melakukan aksi unjuk raksa menuju tempat konferensi APEC untuk " menangkap dan menahan " Suharto.

Enam belas orang ditangkap polisi Canada termasuk 2 orang pengawal Suharto yang mencoba menyusup ke kerumunan demonstran. Pada hari yang sama juga berlangsung demonstransi yang dihadiri kira kira 3000 orang sebagai aksi solidaritas terhadap teman teman mereka yang ditangkap. Polisi kembali berusaha menangkapi orang orang dan mereka menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa. Tiga puluh delapan orang ditangkap, dan banyak peserta aksi yang luka luka dan satu orang di bawa ke rumah sakit. Dan pada malam harinya 1500 orang turun ke jalan untuk memberikan solidaritas terhadap perlakuan polisi pada siang harinya.

Suharto tidak hanya dihadapi dengan protes jalanan dari para demonstran saja, tapi dari meja diplomasi pun pemerintah Indonesia mendapat mulai mendapat tekanan. Pada malam 12 November 1997, US House of Representative mengambil keputusan agar senjata yang dijual Amerika ke Indonesia, tidak boleh digunakan di Timor Timur. Keputusan pelarangan ini atas inisiatif Senator Patrik Leahy setelah Gedung Putih membuat anggaran sebesar 3 milyar US dolar untuk kerja sama pertahanan keamanan bagi antara Indonesia dan Amerika, sehubungan dengan rencana pertemuan Clinton, Menteri Pertahanan Keamanan Cohen dengan Jendral Suharto. Keputusan pelarangan ini ditujukan terhadap setiap kontrak penjualan senjata ke Indonesia, harus dicantumkan pasal yang melarang penggunaan senjata itu di Timor Timur.

Jadi Indonesia masih bisa membeli senjata dari Amerika tapi mereka harus menyetujui bahwa senjata itu tidak boleh dipergunakan di Timor Timur.

Fenomena ini merupakan perkembangan yang cukup menggembirakan bagi perjuangan bangsa Maubere, kendati disisi lain kita masih melihat Amerika seperti tidak peduli nasib kelompok pro demokrasi di Indonesia yang juga ikut menjadi korban penjualan senjata. Karena dengan tank, helikopter dan senjata lainnya, Suharto juga membunuh rakyatnya sendiri dan berusaha menghancurkan gerakan pro demokrasi di Indonesia.

Secara sinikal mungkin kita bisa mengatakan bahwa Amerika punya agenda tersendiri ketika sudah mulai kritis terhadap Suharto. Terlepas dari agenda tersembunyi gedung putih terhadap isu Timor Timur, Suharto sudah semakin terjepit dimana mana. Di bumi loro sae sendiri perlawanan semakin meningkat, sementara itu aktivis pro demokrasi di Indonesia semakin memperkuat diri dalam membangun struktur perlawanan, di luar negri aktifis jalanan selalu siap turun ke jalan setiap saat untuk memprotes Suharto, dan tidak ketinggalan pula " teman - teman " lama Suharto pun sudah mulai meminta Suharto untuk melepaskan Timor Timur. 

PRD International Office Sydney
PO Box 458 Broadway 2007 Australia
Tel: 61-02-96901032
Fax: 61-02-6901381

Sumber:
PRD International Australia
prdint1@peg.apc.org
Tue, 2 Dec 1997


Kembali ke Index