Walau jutaan massa-rakyat sudah menolak Soharto, dia masih merasa punya memiliki kekuasaan, sebab dia masih memegang kendali militer. Berarti, tidak lain, dengan kekuatan militer itulah Soeharto akan merepresi semua pihak yang melawan dia. Apakah tidak mungkin Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) akan membelot terhadap Soeharto ?
HATI-HATI DENGAN ABRI !
Harapan agar elit ABRI (seperti Wiranto) mendukung demokrasi adalah mimpi di siang bolong. Beberapa elit ABRI mungkin akan mengkhianati Soeharto demi mencari selamat untuk kemudian berkuasa lagi kembali. Tapi ABRI mendukung demokrasi adalah sangat kecil kemungkinannya.
ABRI bukan lagi merupakan tentara rakyat seperti yang selama ini mereka gembar-gemborkan. Pada masa perjuangan merebut kemerdekaan dulu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memang merupakan tentara rakyat. Namun, elemen rakyat dalam ABRI --yaitu para gerilyawan-- telah disingkirkan oleh Hatta melalui program "Reorganisasi dan Rasionalisasi" (RERA). Yang tertinggal hanyalah tentara borjuis mantan Pembela Tanah Air (PETA) yang merupakan antek penjajah Jepang dan KNIL yang merupakan antek kolonial Belanda, seperti A.H Nasution dan Soeharto. Sejak saat itu, TNI telah dikooptasi oleh tentara borjuis. Anggota ABRI generasi berikutnya, yang tentu bukan bekas KNIL atau PETA, dididik selayaknya tentara kolonial. Hasilnya adalah serdadu-serdadu yang tidak mengenal hak asasi manusia (HAM), penindas rakyat, serta menjadi pemeras para pedagang WNI keturunan Cina.
Moral serdadu seperti ini bukan merupakan moral tentara rakyat, melainkan moral algojo sekaligus preman. Para jenderal memeras kapitalis besar, para bawahan memeras pedagang kecil.
ABRI telah berfungsi tidak lagi selayaknya sebagai tentara. Mereka telah menjarah hak-hak rakyat sipil, yaitu hak berpolitik. Di manapun, pemegang senjata tidak seharusnya berpolitik. Namun, ABRI telah melakukan itu. Akibatnya jutaan rakyat menjadi korban keberingasan politik Jenderal Soeharto pada awal dia merebut kekuasaan. Tidak hanya itu, dalam mempertahankan kekuasaannya, terus-menerus ABRI digunakan untuk menindas lawan politik Soeharto. Para perwira setia kepada Soeharto, lebih setia daripada herder. Hanya sebagian kecil dari mereka yang berani vokal terhadap Soeharto. Itupun setelah mereka dicampakkan Soeharto. Merekalah yang disebut dengan "barisan sakit hati".
Adalah benar bahwa terdapat konflik di antara perwira ABRI. Tapi konflik itu bukan disebabkan oleh perbedaan cita-cita, atau visi, ataupun juga konsep. Konflik di antara mereka semata-mata demi berebut jabatan dan berebut akses pada kekuasaan.
Jika sekarang ada perwira yang mengaku sebagai "pendukung reformasi", dapat ditebak bahwa kepentingannya hanya sebatas ingin selamat dan mempertahankan jabatannya. Ingat-ingatlah, apakah enam bulan yang lalu ada perwira yang "pro-reformasi" ? Ketika itu semua berlomba-lomba menangkap aktivis, berlomba-lomba membuat istilah untuk memfitnah para aktivis. Tapi sekarang mereka berlomba-lomba untuk "pro-reformasi" !
USAHA MEMODERASI MASSA
Ternyata tanpa dukungan ABRI pun rakyas sipil mampu menjatuhkan Soeharto
secara politik. Pendapat bahwa tidak akan ada perubahan tanpa peran ABRI
sudah terbukti gugur. Soeharto benar-benar terpojok saat ini. Dia berusaha
memoderasi perlawanan dengan membuat konseesi politik, yang antara lain :
1 . Me-reshuffle menteri-menteri yang dibenci rakyat (mereka, para menteri
itu, tidak lain adalah orang-orang kepercayaan Soeharto sendiri).
2 . Membuat Komite Reformasi
3 . Mengadakan pemilu ulang secepatnya dengan UU Pemilu yang baru.
Namun tuntutan mahasiswa dan rakyat sudah jauh dari itu : Soeharto harus mundur sekarang juga ! Dapat ditebak bahwa tipu muslihat Soeharto sudah tidak mempan lagi. Rakyat sudah tidak percaya lagi terhadap Soeharto.
TERUS MOBILISASI MASSA !
Hanya ada satu cara untuk menghadapi dua taktik Soeharto (kombinasi antara represi dan konsesi), yaitu dengan terus-menerus memobilisasi massa dengan jumlah jutaan. Massa itu harus turun di jalan-jalan untuk memblokade gerakan serdadu Soeharto.
Untuk memobilisasi massa dengan jumlah jutaan, tidak bisa lagi hanya mengandalkan mahasiswa. Jumlah mahasiswa terbatas. Harus memobilisasi seluruh rakyat dengan aksi massa yang terpimpin. Aksi massa yang terpimpin tidak akan menjadi anarkisme. Anarkisme lahir akibat ketiadaan kepemimpinan.
Oleh karena itu, kita harus melakukan pawai melalui kampung-kampung. Dengan pawai seperti itulah maka jumlah massa akan terus bertambah. Setiap barisan harus terpimpin.
Siapa yang akan memimpin pawai ini ? Tidak lain adalah mahasiswa. Mahasiswa
telah terbiasa latihan dengan aksi-aksi damai. Mereka sudah terbiasa
menghadapi provokasi militer. Mahasiswa tidak perlu lagi takut
dikambinghitamkan. Sudah terbukti bahwa anarkisme lahir akibat tiga sebab,
yaitu :
- rakyat kurang memahami politik,
- massa tidak terpimpin,
- massa direpresi militer.
Lihatlah di Surabaya dan Semarang di mana rakyat dan mahasiswa melakukan pawai bersama, namun tetap tidak ada anarkhisme. Massa terpimpin sehingga tidak ada alasan militer untuk melalukan intervensi kekerasan.
Selain untuk memblokade serdadu, mobilisasi massa dapat pula mencegah
moderasi. Dalam aksi-aksi massa tersebut harus selalu ada orasi politik yang
dapat dipakai untuk menjelaskan kepada rakyat. Dengan demikian :
- tipu muslihat Soeharto dapat disanggah, sehingga rakyat tidak tertipu,
- meningkatkan kesadaran politik rakyat, sehingga kemarahan mereka terhadap
Soeharto dapat disalurkan secara politis.***
Sumber:
PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK ( P R D )
PEOPLE'S DEMOCRATIC PARTY, INDONESIA
Europe Office
E-mail : prdeuro@xs4all.nl
Wed, 20 May 1998 02:26:17 +0200
| Kembali ke PRD |