PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK (PRD)
PEOPLE'S DEMOCRATIC PARTY OF INDONESIA

Overseas Office
E-mail : prdint1@peg.apc.org

PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK


"TETAP BERJUANG UNTUK DEMOKRASI"

Pidato Ketua PRD, Budiman Sudjatmiko dalam rangka
Peringatan Hari Hak Azasi Manusia Sedunia,
10 Desember 1996

Kepada yang terhormat Rakyat Indonesia.

Salam Demokrasi!
Satu Perlawanan Satu Perubahan!

Regim Orde Baru masih berkuasa, karenanya kita harus tetap melanjutkan perjuangan untuk menegakkan Hak Azasi Manusia dan Demokrasi. Sebab rakyat di negeri ini tidak akan pernah dihargai sebagai manusia beradab, sampai tiba saatnya kita bertindak sebagai mana manusia normal dan berakal sehat harus bertindak. Sebab orang bisa disebut sebagai "manusia" bila ia mempunyai "akal sehat" dan memperlakukan yang lain sebagai manusia. Mereka yang gemar menindas, biasa melecehkan, mengorbankan dan memperdaya manusia lain, pasti "bukan Manusia", dan tidak sedang "berakal sehat". Demikian kekuasaan, harkat dan martabat manusia mampu dijungkir balikan sesuai dengan keinginannya.

Fitrah manusia adalah kesamaan derajat, dan semenjak lama perjuangan untuk mewujudkan dilakukan oleh pejuang kemerdekaan, pejuang demokrasi dan para pengabdi keadilan. Hingga kini kami dan mereka terus berjuang berhadapan dengan struktur kekuasaan yang menindas dan menghisap rakyat negri ini. Rejim Orde Baru selama 30 tahun lebih telah berhasil membangun sebuah "candi kebudayaan" dengan aroma anyir darah yang menyengat, dan gaung rintihan dera dan siksa. Yang satu menjadi lebih jahat dari yang lainnya, yang satu dapat memaksa dan meniadakan yang lainnya. Bagaimanapun negri ini merupakan hukum peradaban yang dibangun manusia sepanjang sejarah. Namun rejim Orde Baru justru melestarikan hukum peradaban yang paling primitif, yang menjadi akar keterbelangan akal dan budi. Sebagaimana regim otoriter, maka watak dan caranya untuk berkuasasecara ekonomi dan politik tidaklah berlaku di bawah syarat-syarat yang bebas, demokratis dan menghargai Hak Azasi Manusia. Kepentingan pribadi, golongan, bangsa dipraktekkan dengan merendahkan harkat dan martabat manusia. Homo Homini Lupus, demikian ungkapan Thomas Hobbes.

Dari Rutan Kejagung RI, setelah 50 tahun lebih merdeka, peradaban bangsa kita semakin kerdil, dan menemui jalan buntu. Kejadian-kejadian Sosial-Ekonomi-Politik-Budaya yang berlangsung di tengah masyarakat dan kebebasan kami, menunjukan bahwa negeri ini pantas untuk prihatin. Rasa takut, cemas, ketidakpastian dan ketidak nyamanan atas struktur kekuasaan membuat situasi tak berbeda dengan psikis bangsa jajahan. Inisiatif, kreativitas, inovasi dan pembaharuan untuk ide-ide yang maju dan segar, tak mungkin sanggup tumbuh dan berkembang didalam taman ketakutan.

Cita-cita kemerdekaan adalah menjadi "Jembatan Emas" bagi kesejahteraan seluruh rakyat indonesia. Jembatan Emas memang sudah kita bangun dengan kokoh. Namun hanya para konglomerat, penguasa dan sedikit orang yang lewat diatasnya. Rakyat jelata yang mayoritas tetap hidup di bawah kolong "jembatan emas". Mimpi kesejahteraan rakyat telah dikubur oleh kapitalisme pasar bebas yang berbentuk konglomerasi, monopoli dan oligopoli. Hak azasi ekonomi kerakyatan dan kesenjangan kaya-miskin semakin menjauh dari hidup sehari-hari.

Hak-hak politik rakyat sebagaimana yang dijamin dalam UUD 1945 pasal 28, untuk saat ini dikurung rapat, tepatnya dipasung, dibuntungi, dibatasai dengan penerapan 5 UU Politik dan Dwi Fungsi ABRI. Kedaulatan rakyat dengan kasar, amoral dan anti etika dilucuti oleh para pengusas. Megawati Sukarnoputri, Ketua Umum DPP-PDI yang didukung rakyat, dan simbol untuk harapan masa depan sebuah negeri dengan ketatanegaraan yang demokratis dan partisipatif diluluh lantakan dengan cara-cara kekerasan yang tidak berperikemanusiaan dan tidak pancasilais. Itulah perilaku politik yang ditunjukan kepada rakyat! Inikah perilaku bangsa yang pantas menyebut dirinya telah 51 tahun merdeka!

Kekuasaan sesungguhnya bukanlah penunjuk kebenaran abadi, melainkan penjelmaaan sejarah yang mengalami pasang surutnya atau setidak-tidaknya menunjukan penyesuaian kepada kondisi-kondisi yang senantiasa berubah. Apabila perubahan dihadapkan dengan status quo; bila dinamika dihadapi oleh kekangan; bila reformasi dihadapi oleh ketakutan; bila komunikasi telah bernada intimidasi; bila hati nurani dikurung oleh penjara ambisi; bila kebebasan sedang diadili; maka sebelum bangsa ini terjerumus lebih jauh pada prahara peradaban, adalah pantas untuk kami ingatkan kembali, kalimat dalam penjelasan umum UUD 1945:

1 . Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rechtstaat) tidak atas kekuasaan belaka,

2 . Pemerintah berdasar atas sistim konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat absoulutisme (kekuasaan) yang tidak terbatas.

Dan sebagai bangsa yang menghargai etika internasional antar bangsa, kami ingatkan pula pada para pengusas dan isi dari deklarasi tentang Hak Azasi Manusia, Pasal 19: "Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; Dalam hal ini termaksud kebebasan menganut tanpa mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat dengan cara apapun, dan dengan tidak memandang batas-batas."

Di Rutan, kami pernah berseloroh "dinegeri ini tempat yang paling aman bersembunyi dari kesewenagan adalah Penjara", Tentu saja tanpa mengecilkan artinya kebebasan dan perjuangan demokrasi yang terus merayap pelan-pelan, kami sarankan bila tidak dari sekarang benteng demokrasi kita bangun, maka esok hari, bulan depan, tahun depan anda akan sedang didunia "bebas", tentulah akan menjadi sekutu kami . Tapi tidak kenapa, benteng demokrasi juga bisa kita tegakkan dari balik penjara. Semoga 10 Desember tahun depan situasi semakin baik buat rakyat, meskipun Golkar tetap terus berkuasa.

Hidup Rakyat!

Atas Nama Seluruh Tapol PRD di Jakarta dan Surabaya
Budiman Sudjatmiko


Kirimkanlah E-mail ke alamat kami / Kembali ke Index bahasa Indonesia