KOMITE PERJUANGAN DEMOKRASI ( K P D )


KRONOLOGI AKSI PEMBELAAN PADA SIDANG VONIS KADER PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK (PRD) MOCHAMMAD SHOLEH

09.45 WIB : Mobil tahanan kijang hijau yang membawa Moch. Sholeh memasuki halaman Gedung Pengadilan Negeri, Jl.Arjuno Surabaya. Pengunjung sidang yang menantikan saat penjatuhan vonis terhadap Sholeh sebagian sudah menunggu setengah jam sebelumnya. Aparat militer, intel dan preman bayaran juga sudah banyak berkeliaran. Seperti kemarin, beberapa orang preman Madura nampak bergerombol menerima briefing dengan berbisik-bisik oleh seorang intel dari Kodam bernama Letda. Budi Utomo. Letnan ini juga yang memerintahkan para preman bayaran (Golkar Madura Surabaya Utara/Gomadsu) termasuk pemuda-pemuda dari FKPPI, PP untuk segera membaur dengan pengunjung sidang yang lain.

09.55 WIB : Mengenakan kemeja putih bergaris-garis, ikat kepala merah bertuliskan "Demokrasi atau Mati," Moch. Sholeh dengan kawalan petugas pengadilan dan polisi memasuki ruang sidang I. Pengunjung dengan setia menyimak setiap argumentasi dan dasar-dasar pengambilan keputusan yang dibacakan secara bergantian oleh Majelis Hakim. Seorang ibu yang dengan setia selalu datang ke sidang ketiga kader PRD bersama suaminya yang tinggal di daerah Karang Pilang, Surabaya Barat, menyatakan keheranannya terhadap materi tuduhan subversif, yang sampai terakhir penjatuhan vonis tidak pernah terbukti secara kuat, kecuali pengungkapan bukti-bukti dari Aksi Mogok Buruh di Tandes 8 Juli 1996, seputar rapat persiapannya, rangkaian kegiatan Sholeh sebagai Ketua Dept. Pendidikan & Propaganda dan aksi-aksi massa yang diikuti, serta Manifesto Politik dan AD/ART Partai Rakyat Demokratik. Dan menurutnya hal itu tidaklah bisa dikategorikan sebagai tindakan subversif (makar). Selama pembacaan berlangsung, seperti halnya Dita dan Coen, Sholeh juga tidak menunjukkan ketegangan sedikitpun, bahkan sesekali dia mengepalkan tangan pada para wartawan yang memotretnya.

11.15 WIB : Materi vonis selesai dibacakan dengan keputusan 4 tahun penjara, setahun lebih ringan dari tuntutan jaksa. Seorang kakek yang nampaknya juga rutin mengikuti jalannya sidang Sholeh, memberikan komentar tentang lamanya hukuman yang dijatuhkan, "..tibakno malah luwih kejem timbang hakime Dita. Keto'ane ae ngguya-ngguyu, nggowo tasbih bendino..." (..ternyata malah lebih kejam daripada hakim --yang mengadili-- Dita. Kelihatannya saja suka humor, bawa tasbih tiap hari --Red)(Ketua Majelis Hakim yang mengadili Sholeh ini memang punya kebiasaan membawa tasbih selama memimpin sidang dan suka humor). Sebelum meninggalkan ruang sidang, Sholeh menyatakan keberatan dan menolak putusan hakim dan sempat dikalungi bunga oleh seorang pengunjung sidang.

11.20 WIB : Sholeh dibawa ke luar lewat pintu belakang. Massa mulai mendesak keluar ruang sidang, terdengar yel-yel provokasi dari massa Gomadsu "Hidup Soeharto," "Hidup Indonesia," "Hidup Pancasila." Tiba-tiba seseorang melayangkan tinju mengenai muka Sholeh. Massa menjadi ribut, pengacara memprotes keras tindak pemukulan itu. Sholeh masih tetap mengepalkan tangan dan berteriak "Hidup demokrasi," beberapa massa menyambut yel-yel dengan semangat. Rizki, seorang aktivis KPD, yang berteriak paling keras dengan tiba-tiba dipukul dari samping oleh salah satu intel bertubuh kekar, sampai jatuh terjengkang. Massa semakin ribut. Aparat bertindak semakin brutal. Terjadi perampasan tas milik salah satu kakak Soleh (mbak Fafa) yang akan diserahkan ke Sholeh oleh seorang preman Gomadsu. Fafa memprotes keras, tapi aparat semakin ganas dan malah melindungi si perampas tas. Fafa coba mengejar penjambret tas, tapi malah dikepung oleh para preman dan aparat. Seorang preman berpeci hitam (sandi identitas mereka) dengan tak bermoral memaki-maki dan membentak Fafa, "..apa! Kamu perempuan mau macem-macem! Ini pengadilan, mau apa kamu, awas kamu!!" Dan aparat hanya tersenyum-senyum ketika Fafa mencoba meminta bantuan dan protes terhadap tindakan kasar dan tak bermoral tersebut. Akhirnya Fafa justru yang diusir untuk segera meninggalkan tempat. Sementara Sholeh langsung dimasukkan ke dalam mobil, sambil masih meneriakkan yel-yel "Hidup Demokrasi! Hidup Rakyat!! Teruskan Perjuangan!!" Begitu Sholeh telah dibawa pergi, Fafa mengadukan perlakuan yang baru saja diterima pada pengacara Sholeh. Bersama pengacara Fafa berusaha mencari penjambret tasnya, namun nampaknya militer telah berhasil menyembunyikan dan melindungi si penjambret bayaran pendukung fanatik Jendral Soeharto tersebut.

11.30 WIB : Pengunjung Sidang dibubarkan oleh aparat dan segera diminta pulang.

Surabaya, 23 April 1997, Pukul 19.00 WIB
=eof=

Sumber:
PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK ( P R D ) PEOPLE'S DEMOCRATIC PARTY OF INDONESIA
International Office
E-mail : prdint1@peg.apc.org


Kirimkanlah E-mail ke alamat kami / Kembali ke Index bahasa Indonesia