KRONOLOGI AKSI "KEADILAN untuk BUDIMAN, MEGAWATI dan RAKYAT."

Pembungkaman suara rakyat kembali dipertontonkan oleh penguasa Indonesia melalui aparat militernya. Aparat Militer dengan sewenang-wenang, memukul, menendang, menginjak-injak para aktivis pro demokrasi yang melakukan orasi yang diberi nama "keadilan untuk Budiman, Megawati dan Rakyat."

Aksi ini memperjelas bahwa keadilan di indonesia sudah semakin kabur, sebagai bukti tidak adanya Demokrasi di Indonesia.

Aksi ini diadakan di depan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, pada tanggal 28 April 1997.

Aksi yang pada awalnya damai, mendadak menjadi panas karena tingkah laku aparat keamanan yang sangat over acting menghadapi para pengunjuk rasa. Seperti biasanya yel-yel ketidakpuasan dilontarkan, makian dan kecaman harus berhadapan dengan pentungan, injakan dan pembubaran yang dilakukan secara legal dan disaksikan di depan mata rakyat yang ada di sekitar lokasi penganiayaan. Beberapa kawan-kawan seperjuangan ditangkapi.

Berikut ini Kronologi aksi "keadilan untuk Budiman, Megawati dan Rakyat" yang dilakukan oleh Komite Aksi Hak Asasi Manusia dan Demokrasi (KAHAMD).

Pukul 07.30 WIB :
Seperti yang dikutip surat kabar Merdeka : "Mengawali persidangan pembacaan putusan majelis Hakim itu, pengawalan jalannya sidang tampaknya dipersiapkan secara khusus. Sekitar 150 petugas dari berbagai kesatuan yang dilengkapi dengan sejata gas airmata, tujuh anggota CPM dan empat provos tampak berjaga-jaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Mereka melakukan upacara singkat dan membagi posisi di berbagai tempat, terutama di tempat jalannya persidangan. Seluruh kendaraan yang ada di halaman pengadilan Jakarta Selatan dikeluarkan.

Pukul 09.00 WIB :
Peserta aksi mulai berdatangan.

Pukul 09.30 WIB :
Massa semakin bertambah banyak dan tampak bergerombol di berbagai tempat. Sementara aparat militer tampak berjaga-jaga di sepanjang Jalan Gajah Mada. Sepasukan tentara huru-hara berjaga-jaga didepan pengadilan di sepanjang Jalan Gajah Mada.

Tak jauh dari gedung pengadilan, tepatnya di samping Gedung Gajah Mada Plaza terlihat 2 truk yang mengangkut tentara dari kesatuan angkatan darat (KODAM JAYA), 2 truk pemadam kebakaran tanpak bersiap-siap pula.

Pukul 09.45 WIB :
Aparat Militer dan preman (bayaran) melakukan provokasi ke lingkaran masa yang ada. Terlihat 2 intel membawa handphone dan mengantongi senjata api laras pendek duduk di antara massa yang menunggu instruksi dari Komando Lapangan (KOLAP).

Pukul 09.50 WIB :
Kendaraan yang mengkut para tapol memasuki perkarangan Pengadilan Jakarta Pusat. Mereka meneriakkan yel-yel "Boikot Pemilu" namun tidak bisa bersatu dengan massa yang menunggunya di luar dan di dalam pengadilan. Mereka langsung diseret ke lantai atas tempat persidangan dilangsungkan. Yel-yel yang diteriakan para Tapol PRD itu terlihat dari balik kendaraan khusus yang berbentuk kerangkeng (penjara). Mereka terlihat membawa untaian bunga, teriakan "Boikot Pemilu," "Hidup Demokrasi" dan "Hidup Megawati." Tak lepas mereka juga menyanyikan lagu mars mereka, yakni "Mars PRD."

Pukul 10.00 WIB :
Kolap meneriakkan pada massa supaya segera bekumpul, Masa bersatu dan membuat barisan. Tepat di atas trotoar (bukan di dalam lokasi pengadilan seperti aksi pada hari sebelumnya pada saat Budiman dan kawan-kawan para Tapol membacakan pidatonya, yang sempat diwarnai blokade tentara sehingga sempat terjadi insiden perebutan spanduk dan poster serta pemukulan) maka aksi kali ini dipilih di luar pengadilan, untuk mencegah blokade aparat yang sewaktu-waktu akan menculik dan menangkap peserta unjuk rasa.

Massa kemudian menyambut teriakan Budiman yang pada saat itu sudah ada di dalam Pengadilan Jakarta Pusat. Dengan spontan yel-yel sambutan terdengar oleh massa yang berkumpul diluar "Hidup Demokrasi, Hidup Budiman, Hidup Megawati dan Boikot Pemilu." Selanjutnya massa baru dapat ditenangkan oleh kolap sambil menyanyikan lagu tentang hilangnya keadilan yang kemudian dilanjutkan dengan lagu "Darah Juang," bahkan sebagian peserta aksi sangat menghayati lagu-lagu tersebut sambil menitikan air mata. Poster dan spanduk dibagikan kepada massa oleh tim perlengkapan aksi. Salah satu poster dibentangkan yang bertuliskan "Repeal 5 Political Laws, Repeal Military Double Function, Bebaskan Budiman, dan masih banyak lagi. Wartawan mulai meliput jalannya aksi.

Setelah menyanyikan lagu "Darah Juang" Wakil Komandan Lapangan (wakolap), melanjutkan orasinya. Masa membengkak yang tadinya berkisar 50 orang menjadi lebih dari itu. Terlihat beberapa kawan-kawan pro-demokrasi dari PIJAR dan PUDI bergabung bersama massa aksi. Aksi ini tak lepas dari liputan wartawan dalam dan luar negeri.

Pukul 10.11 WIB :
Seperti yang diketahui dari tulisan beberapa media massa, bahwa kawan-kawan PRD tidak mempercayai jalannya pengadilan selama ini maka jawabannya lebih baik boikot pengadilan rekayasa dan penuh lelucon ini. Maka Budiman meminta ijin kepada majelis hakim untuk menghampiri para pendukung mereka yang rela berkorban untuk dirinya. Maka dari lantai atas pengadilan ia memimpin massa aksi.

Salah satu butir pidato politiknya kepada massa aksi dan Rakyat Indonesia itu adalah :
1 . Janganlah takut berjuang bersama rakyat, walaupun jiwa taruhannya. Lebih baik mati di pangkuan dan di haribaan rakyat itu sendiri. Janganlah takut berjuang bersama rakyat karena rakyat sendiri yang akan melindungi kita. Selama demokrasi tidak ada di Indonesia, pantang kita menyerah, teruskan perjuangan ini sampai darah penghabisan.

2 . Permintaan maaf kepada rakyat Indonesia karena para tapol tidak bisa meneruskan perjuangan. Kami akan terus berusaha berjuang dari balik tembok penjara sekalipun. Kami tidak takut berapapun hukuman yang akan dijatuhkan kepada kami, walaupun mati taruhannya. Kami adalah rakyat yang dilahirkan oleh rezim yang sangat otoriter, dan tidak demokratis.

3 . Kami memuji keberanian kawan-kawan yang masih meneruskan perjuangan kami. Ini membuktikan bahwa rezim Orde Baru akan menghadapi ajalnya sendiri. Kami bangga bahwa di tengah represi militer yang begitu tinggi, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kader-kader PRD dan para aktivis pro-demokrasi lainnya tetap tidak berhenti. (begitulah kurang lebih isi dari pidato politik Budiman, untuk memberi semangat para pendukung mereka yang melakukan aksi)

Mulai dari sini terlihat para peserta aksi mendengarkan dengan hikmat pidato Budiman yang tidak menggunakan pengeras suara tersebut. Beberapa aktivis berlinangan airmata mendengarkan kerelaan mereka dalam menjalani cobaan dan kerikil-kerikil tajam untuk menuju masyarakat demokratis yang kita cita-citakan.

Pukul 10.20 WIB :
Massa menjadi histeris menyambut pidato politik Budiman. Dengan yel-yel mereka menerikan "Boikot Pemilu" dan "Bebaskan Budiman." Sementara sepasukan polisi anti huru-hara dengan perlengkapan lengkap dengan keras mendorong massa aksi.

Pukul 10.21 WIB :
Seorang perwira polisi dari Polres Jakarta Pusat berteriak, dengan mengatasnamakan hukum meminta aksi dibubarkan. Tetapi negosiator meminta waktu kurang lebih 5 menit kepada komandan tersebut untuk membacakan statetmen dukungan dan keprihatinan mereka terhadap aktivis pro demokrasi. Belum sempat statemen itu dibacakan dan diberikan kepada para wartawan, perwira tersebut berteriak untuk memberikan komando untuk bersiap membubarkan massa.

Pukul 10. 22 WIB :
Pasukan anti huru hara mulai mendorong paksa massa aksi ke arah jalan raya (sebelumnnya massa berdiri di atas trotoar). Dorong-mendorong dan rebut- merebut spanduk berjalan. Akhirnya massa aksi mengalah untuk bubar tanpa ada perintah dari komando lapangan. Massa berjalan ke arah Stasiun Sawah Besar (maksudnya ingin pulang) dengan tetap berteriak-teriak atau melakukan yel-yel "Boikot Pemilu." Aparat militer dan kepolisian terus mengawasi dan mencari-cari kesempatan. Pihak aparat kepolisian (anti huru-hara) menjaga massa aksi dari belakang. Pihak wartawan baik dari dalam dan luar negeri terus mengikuti saat-saat dramatis tersebut. Massa aksi tidak mengira bahaya mengancam dari belakang.

Pukul 10.25 WIB :
Penangkapan dengan tidak jantan dilakukan oleh para Intelijen ABRI. Mereka menerobos barisan tentara huru-hara sambil menculiknya satu persatu, memukulnya, menariknya menjauhi massa. Pasukan huru-hara melakukan provokasi dengan mengejar massa aksi. Yang tertangkap oleh para Intel tersebut tak lepas dari injakan sepatu lars polisi anti huru hara (seperti yang dialami Anom, seorang anggota PDI pro Mega dari Jakarta Selatan)

Massa aksi berteriak-teriak (terutama yang wanita), melihat kawan-kawannya dipukuli, sampai jatuh dan diinjak-injak. Yang pertama diseret dari massa adalah Aris, mahasiswa Universitas Juanda, hingga pakaiannya koyak-moyak dan bertelanjang dada dihabisi aparat.

Massa menjadi panik, kacau balau menyelamatkan dirinya masing masing. Sementara terlihat beberapa peserta aksi menenangkan massa aksi. Sementara itu penganiayaan terus berlngsung. Hal ini tak lepas dari liputan wartawan dalam dan luar negeri. Terlihat baku hantam antara aparat dengan wartawan dari luar negeri karena memukul wartawan yang sedang mengambil gambar adegan penganiayaan tersebut. Beberapa wartawan dalam negeri di rampas atau dibanting kameranya dan diambil isi fotonya.

Beberapa yang lari dikejar dengan sepasukan tentara dari kesatuan Angkatan Darat yang menggunakan sepeda motor. Beberapa yang selamat dilindungi oleh rakyat yang ada di sekeliling lokasi (tepatnya di depan Gajah Mada Plaza). Sebanyak tujuh peserta aktivis tertangkap. Lima dapat teridentifikasi namanya, sementara dua yang lain belum dapat dikenal.

Nama-nama yang tertangkap :
1 . ANOM (PDI JAKARTA SELATAN/MAHASISWA UNAS FAKULTAS EKONOMI)
2 . ARIS (AKSTIVIS FKMPD MAHASISWA JUANDA FAKULTAS HUKUM)
3 . YONO (PDI TANGERANG)
4 . AGUS (lebih dikenal dengan panggilan PAK LURAH, dari FKK 124)
5 . YUSUF PDI JAKARTA PUSAT
6 . DUA ORANG LAGI BELUM DIKETEMUKAN

Kronologi Pengadilan Jakarta Pusat :

1 . Budiman Sujadmiko, Bartholomeus Garda Sembiring, Yacobus Eko Kurniawan, Ignatius Damianus Pranowo, dan Suroso memasuki gedung pengadilan.

2 . Budiman meminta izin untuk tidak mengikuti pembacaan vonis. Jaksa dan hakim setuju. Budiman keluar dari ruang pengadilan. Sebelum keluar Budiman sempat memeluk ibunya yang menangis haru. Kejadian ini tidak berlungsung lama karena aparat keamanan segera menarik Budiman ke luar ruang pengadilan.

3 . Budiman membacakan pidatonya dan menyaksikan pendukungnya dianiaya oleh aparat bersenjata. Dia hanya bisa menyaksikan dari atas gedung. Begitu pula dengan Garda, Suroso dam Pranowo yang keluar ruang persidangan sambil menyanyikan Mars PRD dan meneriakan yel-yel Boikot Pemilu.

4 . Setelah vonis dijatuhkan, terjadi protes dari pengunjung sidang, orang tua dan sanak famili, antara lain : "Mereka membela rakyat kecil kok dihukum, ini tidak adil." Tak ketinggalan para aktivis PDI yang ada di dalam pengadilan juga melancarkan protes keras kepada aparat yang memperlakukan terdakwa dengan sewenang-wenang. Hujan air mata membasahi hampir seluruh pengunjung sidang, kecuali aparat negara tentunya.

5 . Vonis yang dikenakan pada aktivis di Pengadilan negeri Jakarta Pusat :
a . Budiman Sudjatmiko 13 tahun (Ketua Umum PRD)
b . Garda Sembiring 12 tahun (Ketua SMID JABOTABEK dan anggota PRD)
c . Ign Damianus Pranowo 9 Tahun (Sekjen PPBI, anggota PRD)
d . J. Eko Kurniawan 8 tahun (Ketua Departemen Pengembangan Organisasi - PRD)
e . Suroso 7 tahun (Sekretaris SMID Jabotabek, anggota PRD)

6 . Budiman dan kawan-kawan diseret untuk memasuki kendaraan tahanan. Saat itu sempat saling adu dorong antara Budiman dengan aparat. Budiman dengan para pendukungnya yang sejak awal mennunggu vonis pengadilan saling beretemu, tetapi hal ini tidak diinginkan terjadi lama oleh aparat keamanan. Budiman dan kawan-kawan memperoleh dukungan dari massa yang antusias. Beberapa kawan sempat dipukul dan beberapa pengunjung terguling dan ditendang aparat. Perlakuan aparat terhadap pengunjung sidang begitu di luar dugaan. Hal ini bukan lagi dilakukan terhadap massa aksi tetapi juga kepada pendukung yang ada di ruang pengadilan dan terdakwa sendiri. J. Eko Kurniawan sempat terjatuh karena perlakuan aparat yang kurang manusiawi memperlakukan terdakwa.

7 . Terlihat massa dan terdakwa tidak ingin berpisah, tangisan pilu membasahi pengunjung yang menghantar para terdakwan. Layaknya seorang orator, Budiman masih saja melakukan pidatonya walaupun di tengah represi aparat. Hal ini makin memilukan pengunjung dan pendukungnya.

8 . Para orang tua dan aktivis PDI yang menyaksikan Pengadilan itu mengacungkan protes keras terhadap perlakukan aparat. Mereka saling berpelukan (diketahui Sandra, aktivis pada Insiden 27 Juli yang juga dijatuhi vonis pengadilan pada tahun yang lalu berangkulan dengan orang tua Budiman, tangis tidak bisa dibendung). Sandra Fertasari kemudian merangkul Ny. Sri Sulastri, ibu Budiman Sujadmiko. Diluar halaman pengadilan, Sandra menangis di pelukan ibunda Budiman Sujadmiko sambil mengucap lirih, "Pengadilan. ini tidak adil." Ny Sri Sulastri menenangkan Sandra dan memintanya untuk tidak menangis.

"Kita harus tabah menghadapi perjuangan ini. Anak-anak kita tak bersalah. Jadi jangan menangis. Kita tak boleh menangis karena penderitaan ini," tegas Ny. Veronika Sembiring, ibu Garda Sembiring yang berada di samping Ny Sri Sulastri. Ny. Sri Sulastri menyatakan bangga dengan anaknya, Budiman Sudjatmiko, yang dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana subversi dan dihukum 13 tahun penjara. "Saya bangga dengan anak saya yang telah membela orang kecil," ujarnya (Kompas, Selasa 29 April 1997).

9 . Protes tetap berlangsung karena para pendukung dan sanak famili para tapol yang akan mengiringi keluar halaman pengadilan diperlakukan bagaikan "hewan." Mereka digiring terus untuk meninggalkan Gedung Pengadilan Negeri jakarta Pusat.

"ini tidak adil. Anak saya memperjuangkan nasib rakyat kecil. Saya percaya Tuhan Yang maha Adil yang akan menunjukkan siapa yang baik dan memberi pahala baik serta siapa yang jelek akan dihukum, "tutur Ny Sri Sulastri, Ibu Budiman.

Ibu Jakobus yang anaknya dianiaya di depan mata kepalanya, sambil berjalan terus berteriak-teriak tak puas dengan keputusan pengadilan. "Anak saya tidak bersalah. Bahkan dia membela rakyat, tetapi mengapa dihukum. Ini tidak adil," ungkapnya. Ia kemudian berjalan kaki untuk mencari kendaraan umum bersama sanak saudaranya.

10 . Ibu Budiman menutup acara dengan membacakan doa bersama, dilanjutkan dengan meneriakkan takbir perjuangan. Doa ibu Budiman ini diikuti pula oleh pengunjung sidang yang lain sambil menangis.

11 . Semua terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hanya menghadiri sidang kurang lebih selama 3 menit.

12 . Pengacara dari TPKHI hadir tetapi bukan sebagai pengacara PRD akibat pencabutan kuasa hukum yang dilakukan pada persidangan sebelumnya.

Sedangkan para aktivis yang diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sejak awal persidangan memutuskan untuk tetap berada di sel tahanan. Mereka menolak hadir di persidangan.

Vonis jatuh tanpa dihadiri pengacara dan terdakwa. Pembacaan vonis Petrus berlangsung dari pukul 10.45 WIB sampai pukul 14.30 WIB. Untuk terdakwa lain, prosesnya lebih cepat.

Aktivis PRD yang divonis pada hari yang sama di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan adalah :
1 . Petrus Hari Hariyanto (Sekretaris Jendral PRD), vonis 6 tahun.
2 . Ken Budha Kusumandaru (Dept. Pendidikan dan Propaganda SMID, anggota PRD), 4 tahun.
3 . Victor da Costa (anggota SMID jabotabek, anggota PRD), vonis 1,5 tahun
4 . Ign Putut Ariantoko (anggota SMID, anggota PRD), vonis 1,5 tahun.

Aktivis PRD yang divonis terlebih dahulu di SURABAYA adalah :
1 . Dita Indah Sari (Ketua PPBI, anggota PRD) vonis 6 tahun.
2 . Coen Husein Pontoh (Dept. Pendidikan dan Propaganda STN), vonis 4 tahun.
3 . M soleh (SMID Surabaya, anggota PRD) vonis 4 tahun.

Aktivis PRD yang masih menjalani proses persidangan di Pengadilan Jakarta Selatan adalah :
1 . Wilson (Dept. Pendidikan dan Propaganda PPBI, Koordinator SPRIM, dan anggota PRD)
2 . Anom Astika (Dept. Pendidikan dan Propaganda PRD).
=eof=


Back to the main index